TANGERANG SELATAN – Virus Nipah di India tergolong penyakit langka, mematikan, namun ironisnya sering luput dari perhatian publik. Masyarakat India umumnya lebih mengenal penyakit seperti demam berdarah, malaria, COVID-19, hingga Zika. Sebaliknya, ketika nama Nipah disebut, tak sedikit yang justru kebingungan.
Padahal, Nipah termasuk salah satu virus paling mematikan yang pernah tercatat dan bukan ancaman baru di India. Virus ini telah muncul lebih dari satu kali dalam beberapa dekade terakhir.
Nipah merupakan virus zoonosis yang menular dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai inang utama. Hewan tersebut tidak menunjukkan gejala sakit, namun dapat menyebarkan virus melalui air liur, urine, atau buah yang telah dimakan sebagian. Manusia bisa terinfeksi melalui konsumsi buah terkontaminasi, minum air nira pohon palem mentah, maupun kontak erat dengan pasien yang terinfeksi.
Sejak Desember 2025, dua kasus infeksi Nipah dilaporkan di Bengal Barat. Situasi ini mendorong sejumlah negara Asia memperketat pengawasan di pintu masuk internasional. Thailand dan Nepal, misalnya, meningkatkan skrining kesehatan bagi penumpang dari wilayah terdampak.
India sendiri memiliki riwayat panjang terkait Nipah. Wabah pertama tercatat pada awal 2000-an di Bengal Barat, dekat perbatasan Bangladesh. Selanjutnya, kasus kembali muncul di Kerala mulai 2018, yang kemudian mengalami beberapa wabah kecil dan kasus sporadis hingga beberapa tahun terakhir.
Setelah menginfeksi manusia, kondisi pasien dapat memburuk dalam waktu singkat. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, gangguan pernapasan, dan rasa kantuk berlebihan. Pada banyak kasus, infeksi berkembang menjadi peradangan otak dengan tingkat kematian yang tinggi—bahkan lebih dari setengah pasien meninggal dunia dalam beberapa wabah.
“Nipah awalnya bereplikasi di saluran pernapasan bagian atas sebelum menyebar ke aliran darah. Dari sana, virus dapat menyerang sistem kardiovaskular dan berbagai organ lainnya,” ujar Dr. Deep Das, ahli neurologi di CK Birla Hospitals, dikutip dari Times of India.
Menurut Dr. Das, salah satu karakteristik paling berbahaya dari virus Nipah adalah kemampuannya merusak pembuluh darah. Peradangan yang ditimbulkan memungkinkan virus menembus penghalang darah-otak dan menginfeksi otak.
“Virus Nipah memicu peradangan otak ekstrem yang menyebabkan pembengkakan dan berkembang menjadi ensefalitis,” jelasnya.
Infeksi Nipah biasanya diawali demam, nyeri otot, dan sakit kepala, lalu dapat berkembang menjadi kebingungan, kejang, penurunan kesadaran, hingga koma. Pembengkakan otak yang parah membuat tubuh kehilangan kendali atas fungsi vital seperti pernapasan dan detak jantung.
“Kasus Nipah membutuhkan diagnosis cepat, isolasi ketat, serta perawatan kritis dan neurologis menyeluruh karena penyakit ini dapat berkembang sangat cepat dan mengancam nyawa,” tambah Dr. Das.
Mewaspadai virus Nipah bukan berarti memicu kepanikan. Kesadaran justru berarti memahami langkah pencegahan sederhana, seperti mencuci buah dengan benar, menghindari konsumsi air nira mentah, serta segera melaporkan gejala sejak dini.
Sebab, ketika sebuah virus memiliki tingkat kematian tinggi, bahkan satu atau dua kasus pun sudah menjadi persoalan serius.







