TANGERANG SELATAN – Isu mengenai keterkaitan gastroesophageal reflux disease (Gerd) dengan risiko kematian kembali menjadi sorotan setelah kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah ramai diperbincangkan di media sosial. Peristiwa ini memicu diskusi luas di kalangan warganet, terutama karena gejala Gerd kerap menyerupai serangan jantung, seperti nyeri dada dan sensasi panas di ulu hati.
Ramainya perbincangan ini sekaligus menyingkap rendahnya pemahaman masyarakat tentang Gerd. Banyak yang masih menganggapnya sekadar sakit lambung biasa, padahal Gerd merupakan kondisi refluks asam lambung kronis yang dapat menimbulkan iritasi pada kerongkongan jika tidak ditangani secara tepat.
Di tengah banjir informasi di media sosial, muncul anggapan bahwa Gerd dapat menyebabkan kematian. Kondisi ini menegaskan pentingnya edukasi medis yang benar agar masyarakat tidak terjebak pada asumsi yang keliru.
Apa Itu Gerd?
Gerd atau gastroesophageal reflux disease adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang dan berlangsung dalam jangka panjang. Tidak seperti maag biasa, Gerd bersifat kronis dan dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya jika tidak dikelola dengan baik.
Iritasi yang terjadi pada dinding kerongkongan membuat gejala Gerd terasa berat dan sering memicu kecemasan berlebihan, termasuk ketakutan bahwa penyakit ini bersifat fatal.
Ramai Dikaitkan dengan Kematian
Sejumlah warganet menduga Gerd berperan dalam meninggalnya Lula Lahfah, mengingat almarhumah diketahui telah lama mengidap penyakit tersebut. Faktor stres dan overthinking juga disebut-sebut memperburuk kondisi kesehatannya.
Namun, banyak pula yang meluruskan anggapan tersebut. Mereka menilai Gerd bukan penyakit yang secara langsung menyebabkan kematian, sehingga mengaitkannya sebagai penyebab wafat seseorang dinilai tidak tepat tanpa dasar medis yang jelas.
Penjelasan Dokter: Gerd Tidak Mematikan
Menanggapi simpang siur informasi, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Doddy Rizqi Nugraha menegaskan bahwa Gerd bukan penyakit yang menyebabkan kematian.
“Gerd itu enggak bikin meninggal, tapi bikin kamu menderita. Dada tengahnya panas terus,” ujar dr Doddy melalui akun Instagram @dr.doddyrizqi.
Menurutnya, meskipun sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, Gerd termasuk penyakit yang bisa dikendalikan dan disembuhkan dengan penanganan yang tepat.
“Kuncinya di pengaturan pola hidup dan jangan overthinking,” jelasnya.
Peran Stres dan Overthinking
Dr Doddy juga menyoroti faktor psikologis sebagai pemicu utama kambuhnya Gerd. Stres, kecemasan, dan overthinking kerap memperparah gejala yang dirasakan penderita.
Ia bahkan menyarankan pasien untuk tidak melabeli diri sebagai “penderita Gerd” secara berlebihan karena hal tersebut dapat memperkuat sugesti negatif terhadap tubuh.
Kapan Gerd Perlu Diwaspadai?
Meski tidak menyebabkan kematian secara langsung, Gerd yang dibiarkan bertahun-tahun tanpa pengobatan dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti:
-
Esofagitis (peradangan kerongkongan)
-
Striktur esofagus (penyempitan kerongkongan)
-
Barrett’s esophagus yang meningkatkan risiko kanker kerongkongan
Tanda Gerd Harus Segera ke Dokter
Penderita Gerd disarankan segera mencari pertolongan medis jika mengalami:
-
Nyeri dada hebat atau menjalar ke lengan dan rahang
-
Sulit menelan
-
Muntah darah atau tinja berwarna hitam
-
Penurunan berat badan tanpa sebab jelas
-
Gejala tidak membaik meski sudah minum obat
Penanganan yang tepat dan edukasi yang benar menjadi kunci agar Gerd tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.







