TANGERANG SELATAN– Nama psikolog anak Seto Mulyadi atau Kak Seto tengah menjadi sasaran kritik pedas warganet di media sosial. Sorotan ini muncul setelah aktris Aurelie Moeremans merilis buku memoar berjudul Broken Strings pada awal 2026, yang mengungkap kembali pengalaman kelam masa lalunya.
Publik kembali menyinggung dugaan praktik grooming yang dialami Aurelie saat masih di bawah umur. Seiring itu, peran lembaga perlindungan anak dan tokoh pemerhati anak pada masa kasus tersebut mencuat lebih dari satu dekade lalu ikut dipertanyakan, khususnya Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi.
Berdasarkan kutipan dari Beritasatu.com, Rabu (14/1/2026), kasus ini berakar dari hubungan tidak sehat yang diduga dialami Aurelie saat remaja dengan mantan kekasihnya, Robby Tremonti. Merasa khawatir terhadap kondisi putrinya, ayah Aurelie, Jean Marc Moeremans, sempat mendatangi Komnas Perlindungan Anak untuk meminta pendampingan dan perlindungan.
Namun, arsip pemberitaan lama yang kembali viral memperlihatkan kekecewaan Jean Marc karena laporannya dinilai tidak mendapatkan tindak lanjut yang jelas. Hal inilah yang kemudian memicu kemarahan netizen di platform X (Twitter), yang menilai lembaga perlindungan anak gagal memberikan pendampingan maksimal saat korban sangat membutuhkan bantuan.
Sejumlah netizen bahkan melontarkan sindiran tajam kepada Kak Seto.
“Berbeda dengan anak Ferdi Sambo, jelas kan mengapa dia peduli,” tulis seorang netizen.
“Kak Seto sahabat orang kaya,” sindir netizen lainnya.
“Karena dia bukan Kak Seto lagi,” tulis akun lain.
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Kak Seto akhirnya buka suara. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Selasa (13/1/2026), ia meminta publik menyikapi kembali isu lama tersebut dengan kepala dingin dan tidak memelintir fakta.
“Mohon kiranya kita dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih,” tulis Kak Seto. Ia menegaskan bahwa pada masanya, pihaknya telah berupaya bekerja sesuai dengan kewenangan, kapasitas, dan pemahaman yang berlaku saat itu.
Klarifikasi kembali disampaikan Kak Seto pada Kamis (15/1/2026). Ia mengaku mengikuti dengan sungguh-sungguh dinamika publik yang berkembang, termasuk kutipan dalam buku Broken Strings yang kembali diangkat.
“Relasi kuasa, kerentanan remaja, serta dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan pemahaman yang sangat signifikan dalam lebih dari satu dekade terakhir,” ujar Kak Seto.
Ia menjelaskan bahwa setiap bentuk pendampingan dan pernyataan pada masa lalu disampaikan berdasarkan pengetahuan dan kerangka perlindungan anak yang berlaku saat itu. Namun, ia mengakui bahwa standar perlindungan anak saat ini menuntut kepekaan dan kehati-hatian yang jauh lebih tinggi, terutama terkait manipulasi emosional, tekanan psikologis, dan ketimpangan relasi kuasa yang melibatkan anak dan remaja.
“Kami menyadari bahwa perlindungan anak hari ini memerlukan perspektif yang lebih kuat. Oleh karena itu, refleksi atas praktik masa lalu menjadi bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat perlindungan anak ke depan,” tuturnya.
Diketahui, dalam buku Broken Strings, disebutkan bahwa orang tua Aurelie Moeremans sempat beberapa kali mengadukan permasalahan putrinya kepada Kak Seto yang saat itu menjabat di Komnas Perlindungan Anak. Namun, laporan tersebut dinilai tidak mendapatkan respons yang memadai, sehingga memunculkan dugaan pembiaran.
Meski klarifikasi telah disampaikan, perdebatan di ruang publik belum mereda. Kasus ini tidak hanya menjadi sorotan atas pengalaman pribadi Aurelie Moeremans, tetapi juga berkembang menjadi kritik terhadap efektivitas sistem perlindungan anak di Indonesia.
Banyak pihak berharap polemik ini dapat menjadi momentum evaluasi agar laporan terkait kekerasan, eksploitasi, maupun grooming terhadap anak dapat ditangani secara lebih serius dan akuntabel di masa mendatang.







