CARACAS- Suasana Caracas, Venezuela, yang semula senyap pada Sabtu (3/1/2026) dini hari, mendadak berubah mencekam. Serangan militer Amerika Serikat (AS) yang menyasar sejumlah titik strategis pemerintahan Presiden Nicolás Maduro menggetarkan ibu kota dan menimbulkan kepanikan warga sipil, termasuk sejumlah warga negara Indonesia (WNI).
Berdasarkan kesaksian di lapangan, serangan dimulai sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Ledakan-ledakan dahsyat terdengar hampir merata di berbagai penjuru kota, menandai dimulainya operasi militer Washington terhadap target-target penting rezim Maduro.
Seorang WNI yang menetap di Caracas menceritakan detik-detik mencekam saat serangan terjadi dikutip dari Beritasatu.com. Ia menyebut serangan berlangsung sangat sistematis dan diduga sepenuhnya berasal dari udara.
“Jam 2 pagi ada ledakan besar, satu Caracas bisa dengar. Tapi tidak ada suara rentetan tembakan,” ungkapnya melalui sambungan telepon.
Menurut kesaksiannya, beberapa titik vital menjadi sasaran utama serangan. Salah satunya adalah Fuerte Tiuna, markas besar Angkatan Bersenjata Venezuela sekaligus simbol kekuatan militer pemerintahan Maduro. Selain itu, infrastruktur komunikasi juga dilaporkan lumpuh.
“Ada juga antena repeater yang dibom,” tambahnya.
Meski serangan berlangsung masif, tidak terlihat aktivitas pesawat tempur yang terbang rendah di atas kota. Hal tersebut menguatkan dugaan penggunaan teknologi nirawak atau drone berketinggian tinggi untuk meminimalkan deteksi radar pertahanan udara Venezuela.
“Saya dengar suara mirip pesawat, tapi sepertinya di ketinggian dan bukan terbang rendah. Dugaan saya itu drone,” jelasnya.
Hingga pagi hari, sejumlah laporan media internasional menyebutkan serangan AS mencakup wilayah yang cukup luas, antara lain Caracas sebagai pusat pemerintahan dan pangkalan militer utama, La Guaira yang merupakan kawasan pelabuhan serta bandara internasional, serta Negara Bagian Aragua yang menjadi lokasi pangkalan udara strategis Venezuela.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) memastikan seluruh WNI di Venezuela dalam kondisi aman di tengah meningkatnya ketegangan akibat serangan militer AS tersebut.
Dalam pernyataan resmi pada Sabtu (3/1/2026), Kemenlu menyampaikan bahwa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Caracas terus memantau perkembangan situasi dan kondisi WNI.
“Saat ini, seluruh WNI di Venezuela dilaporkan dalam keadaan aman,” tulis Kemenlu melalui platform X. Kemenlu menambahkan, tidak hanya KBRI Caracas, seluruh perwakilan RI di kawasan Amerika Selatan juga aktif melakukan pemantauan untuk memastikan keselamatan WNI.
Pemerintah Indonesia mengimbau seluruh WNI agar tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta menjaga komunikasi secara intensif dengan KBRI Caracas.
Saat ini, mayoritas WNI di Venezuela menetap di Caracas. Sebagian besar merupakan staf KBRI, sementara lainnya menjalankan usaha pribadi. Hingga laporan ini diturunkan, situasi keamanan di pusat kota dan wilayah perbatasan dilaporkan masih siaga satu, seiring meningkatnya aktivitas massa pendukung pemerintah yang turun ke jalan.
Media lokal melaporkan sejumlah ledakan terjadi di beberapa wilayah Venezuela pada Sabtu dini hari waktu setempat, di tengah meningkatnya ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat.







