TANGERANG SELATAN – Memasuki tahun baru 2026, banyak orang menetapkan resolusi sebagai bentuk tekad untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Namun, semangat di awal Januari kerap memudar seiring kembalinya rutinitas harian. Para pakar menilai resolusi tahun baru perlu disusun secara realistis agar dapat dijalankan secara konsisten sepanjang tahun.
Melansir Real Simple, para ahli menyebut langkah awal dalam membuat resolusi adalah menetapkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai. Target yang terlalu ambisius dinilai berisiko menimbulkan kelelahan dan kehilangan motivasi. Sebaliknya, tujuan bertahap memungkinkan munculnya keberhasilan kecil yang dapat memupuk semangat.
Selain itu, penggunaan bahasa dalam menyusun resolusi juga dinilai berpengaruh. Mengganti kalimat bernada kewajiban seperti “harus” dengan ungkapan keinginan seperti “ingin” dapat membangun keterlibatan emosional yang lebih kuat dan menjaga komitmen jangka panjang.
Pakar juga menekankan pentingnya menjadikan resolusi sebagai bagian dari rutinitas harian. Resolusi yang terintegrasi dalam kebiasaan sehari-hari dinilai lebih mudah dijalankan dibandingkan target yang hanya bersifat konseptual. Perencanaan tindakan konkret serta antisipasi terhadap hambatan menjadi kunci keberhasilan.
Dukungan sosial turut berperan dalam menjaga konsistensi resolusi. Memberi tahu teman atau keluarga mengenai tujuan yang ingin dicapai dapat menciptakan rasa tanggung jawab sekaligus dukungan moral. Dalam beberapa kasus, resolusi bersama dinilai lebih efektif untuk menjaga motivasi.
Resolusi juga disarankan bersifat spesifik dan terukur. Tujuan yang jelas, seperti jadwal olahraga atau target mingguan, memudahkan pemantauan kemajuan. Para ahli juga menganjurkan untuk merayakan pencapaian kecil sebagai bentuk penguatan psikologis serta memanfaatkan aplikasi pelacak kebiasaan untuk memantau progres.
Terakhir, para pakar menyarankan agar jumlah resolusi dibatasi. Fokus pada satu hingga tiga tujuan utama dinilai lebih efektif dibandingkan membuat terlalu banyak resolusi yang berpotensi membebani secara mental.
Dengan pendekatan realistis, perencanaan yang terukur, serta dukungan lingkungan sekitar, resolusi tahun baru dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan dijalankan secara konsisten sepanjang tahun.







