• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Kamis, 22 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home OPINI

DISWAY: Hijrah Riba

admin by admin
Agustus 26, 2025
in NEWS, OPINI
Reading Time: 3min read
dahlan iskan

Foto kolase: Disway

76
SHARES
1.5k
VIEWS

Oleh: DAHLAN ISKAN
Sang Begawan Media

 

SAYA bertemu seorang pimpinan sembilan perusahaan. Ia bukan pemegang saham. Ia bilang pemegang sahamnya tunggal: Allah.

“Kan tidak bisa Allah jadi pemegang saham,” kata saya.

“Bisa,” jawabnya.

“Notarisnya pasti tidak mau bikinkan akta pendirian perusahaan. Kan melanggar hukum.”

“Notarisnya mau.”

“Tidak mungkin. Pasti di akta pakai nama orang. Nama Anda sendiri?”

“Betul,” jawabnya.

“Lalu Anda bikin pernyataan notariel bahwa saham Anda itu sebenarnya milik Allah?”

“Betul. Begitu,” jawabnya.

Nama orang itu: Hendra Firmansyah.

Hendra lahir di Pontianak. Tumbuh besar di Jakarta. Ikut pertukaran pelajar ke Jepang dan Jerman. Belajar ilmu logika di Beijing. Mulai usaha di Makassar –sampai punya perusahaan eksporter lada hitam.

Sembilan bulan terakhir Hendra kembali ke Pontianak: agar dekat dengan ayah-bundanya yang sudah tua.

Tahun 2016 Hendra “hijrah”‘ –meninggalkan apa pun yang dilarang agama. Termasuk yang riba. Saat itu sebenarnya Hendra aman: tidak punya utang bank. Asetnya pun sudah Rp 500 miliar. Semua tidak lagi ia urus –konsentrasi memikirkan datangnya ”Hari Perhitungan”: apakah dosanya lebih besar dari pahalanya.

Hendra pun jatuh miskin.

Anaknya sudah 10 orang. Sebagian besar masih kecil-kecil. Hendra tidak lagi punya rumah. Perusahaannya sudah ia serahkan ke Allah. Ia tidur di rumah sewa. Kadang di masjid.

“Apakah waktu memutuskan akan hijrah istri Anda setuju? Istri diajak bicara?”

“Istri sangat setuju. Mendukung. Biar pun saya beri tahu risikonya akan hidup miskin,” ujar Hendra.

BACA JUGA :  Setelah Dirawat di RS Polri, Roy Suryo dan Dokter Tifa Jalani Tahap Dua Kasus Ijazah Jokowi

“Apakah Anda tergabung dalam komunitas masyarakat tanpa riba (MTR)?”

“Tidak. Saya mandiri,” katanya.

Pelan-pelan usahanya hidup lagi. Ekspornya jalan lagi. Semua dividen diserahkan ke satu lembaga yang ia bentuk: WGS –Win Global Solusitama.

Ekspor ladanya bangkit lagi. Lalu punya usaha Pomigor –pompa mini minyak goreng. Punya usaha konsultan –utamanya untuk orang-orang yang ingin bebas dari utang riba. Dan banyak lagi.

Membantu melunasi utang adalah kegiatan sosial utamanya. Uangnya diambilkan dari kas WGS. Orang yang utangnya dilunasi harus tunduk pada aturan WGS –melunasi utangnya ke WGS tanpa bunga. Orang itu dididik untuk punya usaha. Agar utangnya ke WGS bisa lunas.

Ide baru yang lagi ia bicarakan dengan travel umrah adalah ini: calon jamaah cukup membayar Rp 12 juta ke WGS. Bulan ketujuh mereka diberangkatkan ke Makkah-Madinah. WGS yang akan membayar lunas ke perusahaan umrah.

Uang itu, kata Hendra, dibelikan mesin pomigor. Tiap bulan laba satu pomigor Rp 4 juta. Dalam tujuh bulan terkumpul laba Rp 28 juta. Masih ada Sisa laba. Diputar oleh WGS untuk berbagai usaha sosial.

“Rombongan pertama umrah yang berangkat dengan skema ini di bulan Maret tahun depan,” kata Hendra. Mereka adalah orang-orang Kalbar yang percaya dengan skema itu. Bulan ini mereka melunasi Rp 12 juta/orang.

Pomigor adalah mesin yang bentuknya mirip pompa bensin di SPBU. Lebih kecil. Satu mesin berisi 110 liter. Disediakan kantong plastik. Boleh juga bawa botol sendiri. Mesin pomigor sudah disetel hanya bisa melayani satu pembelian satu liter. Kalau mau beli lima liter harus bawa jeriken sendiri. Atau diberi lima kantong plastik.

BACA JUGA :  Lewat Car Free Day, FIFGROUP Gaungkan Kampanye "Perempuan Berperan" untuk Mendorong Kesetaraan Gender

Mesin pomigor juga sudah disetel harganya. Kalau operator membuat harga lebih tinggi mesinnya otomatis tidak bisa bekerja. Di Kubu Raya saja WGS sudah punya 16 pomigor. “Di seluruh Indonesia sudah ribuan,” kata Hendra.

Saya menyesal tidak mampir ke pomigornya yang di Kubu Raya. Sudah keburu ke bandara. Lain kali saya akan melihatnya. Agar tahu apakah yang ia ceritakan benarkah adanya.

Sebenarnya Hendra tidak tahu siapa ayah ibunya. Sejak kecil ia diasuh kakeknya yang hidup sendiri –istrinya meninggal dunia. Umur enam tahun sang kakek meninggal. Hendra kecil jalan ke pelabuhan Pontianak. Ia naik kapal kayu. Ikut berlayar ke Sunda Kelapa, Jakarta.

Di Jakarta Hendra dipungut orang Depok. Tokoh Muhammadiyah setempat. Disekolahkan. Sampai dapat kesempatan pertukaran pelajar ke dua negara.

Baru belakangan, ketika Hendra mengajak anak-anaknya ke Taman Mini Indonesia Indah, ketemu seseorang di anjungan Kalbar. Saling kenalan. Ketika tahu Hendra lahir di Kalbar terjadilah dialog panjang. Ternyata orang itu paman Hendra sendiri.

Hendra pun memutuskan mencari ayahnya di Pontianak. Di Jalan Merak I Dalam. Ayah ibunya sudah tua tapi masih sehat. Hendra memutuskan pindah ke Pontianak. Anak Hendra kini sudah 16 orang. Yang tertua bekerja di Yamaha di Jepang.

BACA JUGA :  DISWAY: Tawaduk Thinking

Dari Pontianak Hendra mengendalikan sembilan usaha atas nama pemegang saham tunggal. Meski orang Pontianak tapi darahnya Bugis. Di Kalbar memang banyak orang Bugis. Istrinya juga Bugis –karena itu Hendra memulai usaha pertama di Makassar.

Hendra memutuskan tidak akan memiliki rumah, mobil, dan aset pribadi. Ia selalu sewa rumah. Sewa mobil. Ia mengaku ingin hidup sangat sederhana. Ia juga tidak ingin mewariskan apa pun ke anak-anaknya, kecuali ilmu pengetahuan.

Begitu mendarat di Surabaya, saya ajak Hendra ke rumah. Makan siang di rumah. Saya ingin mengenal lebih jauh orang ini. Setelah makan saya tawari Hendra tidur di rumah saya. Lalu akan saya ajak ke Magetan –meresmikan bangunan kampus dua Islamic International School keesokan harinya.

Tapi kedatangannya ke Surabaya sudah penuh agenda. Termasuk akan membicarakan konsep umrah Rp 12 juta itu dengan satu perusahaan umrah yang berpusat di Surabaya.

Saya akan cari lagi orang ini. Saya penasaran. “Rasanya konsep Anda ini too good to be true,” kata saya kepadanya. Saya pun menyinggung soal umrah Rp 15 juta yang ternyata menyengsarakan begitu banyak orang itu. Sampai pemilik perusahaan umrahnya masuk penjara.

Hendra tahu semua itu. “Itu sih skema Ponzi,” katanya. “Sedang ide saya ini jelas, baru bisa berangkat tujuh bulan kemudian,” katanya.

Saya iri dengan orang seperti Hendra: bisa hijrah begitu entengnya.(*)

Tags: Beijingdahlan iskandiswayMakassarPontianak
Previous Post

Buka Jam 8 Pagi, Berikut Lokasi SIM Keliling Tangsel Hari Ini

Next Post

Polri Pastikan Hasil Tes DNA Lisa Mariana Berdasarkan Keilmiahan

Related Posts

Songsong 131 Tahun, BRI Usung Semangat Tumbuh Berkelanjutan, Memajukan Negeri
ADVERTORIAL

Songsong 131 Tahun, BRI Usung Semangat Tumbuh Berkelanjutan, Memajukan Negeri

Oktober 21, 2026
2.7k
RUPS Pengelola RSIA Family Pluit Disoal, Tiga Putusan MA dan Sinar Mas jadi Sorotan
HUKUM

RUPS Pengelola RSIA Family Pluit Disoal, Tiga Putusan MA dan Sinar Mas jadi Sorotan

Oktober 21, 2026
2.4k
Rekonstruksi Jembatan Merpati Raya Tangsel Ditunda, Penutupan Jalan 22 Oktober Batal
TANGERANG SELATAN

Rekonstruksi Jembatan Merpati Raya Tangsel Ditunda, Penutupan Jalan 22 Oktober Batal

Oktober 21, 2026
2.6k
KUR BRI Buka Jalan Rezeki Lintas Generasi melalui Sepiring Ketoprak di Bengkulu Selatan
ADVERTORIAL

KUR BRI Buka Jalan Rezeki Lintas Generasi melalui Sepiring Ketoprak di Bengkulu Selatan

Oktober 21, 2026
2.4k
BRI dan Pemerintah Gerakkan Investasi Global dan Berdayakan Ekonomi Lokal dari Level Korporasi hingga UMKM
ADVERTORIAL

BRI dan Pemerintah Gerakkan Investasi Global dan Berdayakan Ekonomi Lokal dari Level Korporasi hingga UMKM

Oktober 21, 2026
2.4k
Film Hamka Awal Mula Vol. 3 Tayang 19 November 2026, Vino G. Bastian Kembali Jadi Buya Hamka
FILM & MUSIK

Film Hamka Awal Mula Vol. 3 Tayang 19 November 2026, Vino G. Bastian Kembali Jadi Buya Hamka

Oktober 21, 2026
2.4k
Next Post
Polri Bakal Tindak Tegas Aksi Premanisme Berkedok Ormas

Polri Pastikan Hasil Tes DNA Lisa Mariana Berdasarkan Keilmiahan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com