• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Kamis, 22 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home OPINI

DISWAY: Panglima Merah

Hadi Ismanto by Hadi Ismanto
Agustus 25, 2025
in NEWS, OPINI
Reading Time: 4min read
gibran

Gibran berpidato ketika mendatangi ulang tahun Panglima Jilah. Foto: Setwapres/Disway

99
SHARES
2.4k
VIEWS

Oleh: DAHLAN ISKAN
Seng Begawan Media

 

Ini hanya kebetulan: waktu saya mendarat di Pontianak, dua hari lalu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka BSc, baru saja meninggalkan bandara itu kembali ke Jakarta.

Sabtu sore itu wapres baru saja menghadiri ulang tahun ke-45 Panglima Jilah. Sedang saya akan ikut acara lari lima kilometer Minggu pagi keesokan harinya.

Ulang tahun Panglima Jilah berlangsung di Desa Sambora, dua jam bermobil dari Pontianak. Acara lari saya di Kabupaten Kubu Raya, tempat Bandara Supadio berada.

Tidak banyak yang tahu latar belakang Panglima Jilah. Arti Jilah adalah merah. Apa yang dikatakan Panglima Jilah sangat dituruti pengikutnya.

Pengikut Panglima Jilah disebut Pasukan Merah. Anggotanya lebih dari 300.000 orang. Sampai pun di Serawak dan Brunei.


Panglima Jilah dan ratusan Pasukan Merah. Foto: Disway

Panglima Jilah digambarkan sebagai orang sakti. Dipercaya pula bisa terbang cepat dengan kendaraan daun kelapa sawit. Setengah gaib. Tentu belum pernah ada orang yang melihatnya.

Yang terlihat secara fisik: badannya penuh tato. Merata. Hanya wajah angkernya yang tanpa tatto. Semua tattonya khas suku Dayak. Dibuat secara traditional dengan warna tatto diambil dari dedaunan obat di pedalaman Kalbar.

Nama aslinya Antonius. Agama resminya Katolik.

Di Kubu Raya, seusai lari, saya duduk satu meja dengan banyak pejabat setempat. Sambil menunggu acara hiburan masal di panggung besar di depan kantor bupati Kubu Raya.

Setiap kursi di meja itu saya tanya: apakah tahu latar belakang pendidikan Panglima Jilah.

Tidak ada yang tahu.

Banyak telinga di sekitar saya juga saya tanya serupa. Jawab mereka sama.

Orang sakti memang dikesankan penuh misteri. Dua orang di antara kursi itu bisa sedikit menjelaskan: waktu muda Panglima Jilah pekerja kasar di sekitar Mempawah. Lalu menghilang lama. Cerita yang beredar: ia bertapa di gunung. Bertahun-tahun. Dari situlah diperoleh kesaktian.

BACA JUGA :  Tabrakan Kereta di Cicalengka, Kemenhub Kirim Tim Investigasi 

Gelar “Panglima Jilah” sendiri kelihatannya untuk mewarisi mitos yang selama ini hidup di lingkungan masyarakat Dayak: “Panglima Burung”. Yakni tokoh misteri yang di saat kritis akan muncul membela dan menyelamatkan orang Dayak. Itu yang membuat orang Dayak menjadi pemberani dalam perang: mereka percaya akan dilindungi oleh ruh Panglima Burung.

Panglima Burung digambarkan sebagai orang baik, suka perdamaian, pendiam, pemalu, sopan, tapi berubah menjadi garang, kejam dan ganas bila orang Dayak dimusuhi.

Dalam peristiwa pembantaian di Sambas (Kalbar) sampai Sampit (Kalteng) tahun 2002, dipercaya saat itu Panglima Burung-lah yang merasuki jiwa-jiwa orang Dayak.

Maka ketika kini muncul tokoh “Panglima Jilah” kesan yang muncul adalah personifikasi “Panglima Burung”. Hanya yang sekarang ini tokohnya riel. Manusianya ada. Panglima Jilah orangnya. Nyata. Sedang Panglima Burung lebih bersifat mitos.

Pengetahuan saya tentang Panglima Jilah sangat dangkal. Kali pertama mendengar kata “Panglima Jilah” sekitar tiga tahun lalu. Waktu itu saya ke Pontianak. Jalan macet. Ternyata sedang ada apel besar Bahaupm Bide Bahana. Arti sederhananya: apel gotong royong. Lokasinya di Tariu Borneo Bangkule Rajakng, rumah adat Dayak di pusat kota Pontianak.

Di sekitar lokasi itu suasananya serba merah. Serba Dayak. Mereka adalah Pasukan Merah di bawah pimpinan Panglima Jilah. Itulah apel dukungan Pasukan Merah untuk Jokowi. Termasuk untuk mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara, IKN. Jokowi sendiri di apel itu mengenakan topi Dayak dengan bulu burung Enggang yang menjulang.

Setahun kemudian Panglima Jilah bertemu Presiden Jokowi lagi: di IKN. Panglima Jilah menyampaikan harapannya agar Jokowi terus membangun Kalimantan.

BACA JUGA :  Berkendara Sambil Mabuk: Puluhan Remaja di Surabaya Kena Razia Polisi

Tahun ini ganti Gibran yang bertemu Panglima Jilah. Lokasinya lebih istimewa: di rumah Panglima Jilah di Sambora.

Kalau Anda bermobil dari Pontianak ke arah Singkawang, Anda akan melewati kota kecil bernama Sungai Pinyuh. Di situ ada pertigaan. Kalau lurus Anda akan ke Singkawang. Kalau belok kanan Anda akan ke Sintang.

Untuk ke Sambora Anda ikut yang ke arah Sintang itu. Sekitar 20 menit dari pertigaan itu Anda belok kiri. Ke jalan sempit. Sejauh lima kilometer. Rasanya jalan itu hanya bisa untuk lewat satu mobil. Tibalah Anda di desa Sambora.

Gibran tidak menyusuri jalan sempit itu. Ia naik helikopter dari Pontianak. Ada helipad tidak jauh dari rumah Panglima Jilah. Helipad permanen. Terbuat dari beton. Landasan heli itu terlihat belum terlalu lama dibangun.

Sebelum lari pagi Minggu kemarin saya baca berita lokal mengenai kedatangan Gibran ke rumah Panglima Jilah. Di situ Gibran meresmikan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ada juga acara penyerahan beasiswa ke pelajar Dayak yang berprestasi.

Lalu Gibran menerima kajian akademik dari Panglima Jilah: perlunya dibentuk kabupaten baru di lokasi itu. Panglima Jilah pun berpesan agar Gibran meneruskan apa yang dilakukan Presiden Jokowi.

Di situlah Gibran menegaskan: pembangunan IKN tetap diteruskan. Itu sebagai bentuk pemerataan pembangunan. Agar tidak Jawa-sentris. Jangan percaya pada omongan bahwa IKN dihentikan. Pembangunan IKN jalan terus.

Setelah membaca itu saya bergegas ke komplek kantor bupati Kubu Raya. Sudah padat. Sudah sulit masuk lokasi. Manusia tumpah ruah. Berdesakan. Saya harus menyibak barisan manusia. Saya ingat seperti waktu tawaf saja.

BACA JUGA :  DISWAY: Wanita Global

Ini acara besar pertama di masa bupati baru Kubu Raya: Sujiwo. Ia orang Jawa. Wakilnya, Sukiryanto, orang Madura. Jawa-Madura terpilih dengan suara telak di Kubu Raya, Kalbar.

Inilah bupati yang amat merakyat. Ia memang anak transmigran miskin. Hebat. Berhasil jadi bupati.

Ayahnya, sebenarnya tentara. Pangkatnya sersan mayor. Tapi miskin. Sampai pensiun tidak punya rumah. Tugas terakhir sang ayah di Medan. Sujiwo pun lahir di Medan.

Begitu pensiun sang ayah kembali ke Wonogiri. Tidak punya rumah di Wonogiri. Lalu pindah ke Solo. Cari rumah kontrakan. Akhirnya ikut transmigrasi Angkatan Darat (Transad) ke Rasau, Kalbar. Sujiwo, yang ketika itu umur 10 tahun, ikut bertransmigrasi.

Sang ayah seorang Sukarnois. Marhaenis. Maka ketika sekolah D3 di Pontianak Sujiwo aktif di GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Pun ketika melanjutkan S-1 di Universitas Tanjungpura.

Sejak sebelum reformasi Sujiwo sudah ikut perjuangan Megawati Sukarno Putri di PDI-Perjuangan. Umur 27 tahun sudah menjadi anggota DPRD. Setiap lima tahun terpilih lagi. Sampai lima periode berturut-turut.

Sujiwo pun sangat mengakar. Maka saat maju sebagai calon bupati Kubu Raya terpilih dengan mudah.

Kini, setelah Singkawang, Kubu Raya akan menjadi kabupaten yang menonjol di Kalbar. Dua-duanya dari PDI-Perjuangan.

Partai itu memang tetap menjadi pilihan utama suku Dayak di Kalbar. Kursi DPRD-nya tetap terbanyak. Tapi begitu Pilpres mereka pilih memenangkan Prabowo-Gibran.

Panglima Jilah, Pasukan Merah, PDI-Perjuangan, Gibran, Prabowo, Sujiwo akan terus mewarnai politik Kalbar lima tahun ke depan. Juga Jawa, Madura, Dayak dan Melayu.

Di atas sana masih ada Panglima Burung: panglima dengan pasukan besar tanpa harus lulus AMN dan berpangkat jenderal.(*)

 

 

Tags: dahlan iskangibran rakabuming rakaKalimantan Baratpanglima jilahpanglima merahPontianak
Previous Post

Masa Berlaku Habis? Berikut Lokasi SIM Keliling Tangsel Hari Ini

Next Post

Prakiraan Cuaca Tangsel Hari Ini: Hujan Guyur Seluruh Wilayah

Related Posts

Songsong 131 Tahun, BRI Usung Semangat Tumbuh Berkelanjutan, Memajukan Negeri
ADVERTORIAL

Songsong 131 Tahun, BRI Usung Semangat Tumbuh Berkelanjutan, Memajukan Negeri

Oktober 21, 2026
2.7k
RUPS Pengelola RSIA Family Pluit Disoal, Tiga Putusan MA dan Sinar Mas jadi Sorotan
HUKUM

RUPS Pengelola RSIA Family Pluit Disoal, Tiga Putusan MA dan Sinar Mas jadi Sorotan

Oktober 21, 2026
2.4k
Rekonstruksi Jembatan Merpati Raya Tangsel Ditunda, Penutupan Jalan 22 Oktober Batal
TANGERANG SELATAN

Rekonstruksi Jembatan Merpati Raya Tangsel Ditunda, Penutupan Jalan 22 Oktober Batal

Oktober 21, 2026
2.6k
KUR BRI Buka Jalan Rezeki Lintas Generasi melalui Sepiring Ketoprak di Bengkulu Selatan
ADVERTORIAL

KUR BRI Buka Jalan Rezeki Lintas Generasi melalui Sepiring Ketoprak di Bengkulu Selatan

Oktober 21, 2026
2.4k
BRI dan Pemerintah Gerakkan Investasi Global dan Berdayakan Ekonomi Lokal dari Level Korporasi hingga UMKM
ADVERTORIAL

BRI dan Pemerintah Gerakkan Investasi Global dan Berdayakan Ekonomi Lokal dari Level Korporasi hingga UMKM

Oktober 21, 2026
2.4k
Film Hamka Awal Mula Vol. 3 Tayang 19 November 2026, Vino G. Bastian Kembali Jadi Buya Hamka
FILM & MUSIK

Film Hamka Awal Mula Vol. 3 Tayang 19 November 2026, Vino G. Bastian Kembali Jadi Buya Hamka

Oktober 21, 2026
2.4k
Next Post
Prakiraan Cuaca Kota Tangsel Hari Ini: Seluruh Wilayah Hujan

Prakiraan Cuaca Tangsel Hari Ini: Hujan Guyur Seluruh Wilayah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com