TANGSEL – Sebuah studi terbaru menemukan banyak produk kecantikan yang digunakan perempuan setiap harinya mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat memicu kanker.
Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Environmental Science & Technology Letters. Dalam studi ini, para peneliti menganalisa kebiasaan 64 perempuan di Los Angeles AS dalam menggunakan produk perawatan kulit (skin care) selama satu pekan.
Para partisipan diminta memotret label bahan dari setiap produk seperti sabun mandi, body lotion, shampoo, kondisioner, eyeliner, pemutih kulit, hingga lem bulu mata yang mereka gunakan.
Hasilnya, lebih dari separuh peserta dilaporkan menggunakan produk mengandung formaldehida atau bahan pengawet yang melepaskan formaldehida. Ini merupakan zat yang telah lama diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia.
“Ini sangat mengkhawatirkan karena kita secara sadar memasukan bahan pelepas karsinogen ke dalam produk yang kita aplikasikan setiap hari,” ujar peneliti utama studi dan direktur riset di Silent Spring Institute, Robin Dodson seperti dilansir dari NPR, Sabtu (17/5/2025).
Formahelida dikenal sebagai pengawet yang sangat efektif dan kerap digunakan dalam berbagai produk industri, termasuk cairan pengawet jenazah. Namun, paparan berulang melalui kulit atau saluran pernapasan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius termasuk kanker.
Studi ini memperluas temuan sebelumnya dengan menunjukkan bahwa formahelida dan bahan pelepas formahelida tak hanya ditemukan dalam produk pelurus rambut, tetapi juga dalam berbagai produk kecantikan yang lebih sering digunakan.
Salah satu partisipan bahkan tercatat menggunakan tiga produk mengandung formahelida sekaligus, di antaranya dua jenis kondisioner dan sabun mandi.
Secara total, partisipan menggunakan 1.143 produk dalam sepekan, atau rata-rata 17 produk per orang setiap hari. Angka ini dinilai mencerminkan tekanan sosial terhadap perempuan untuk tampil sesuai dengan standar kecantikan tertentu.
“Kami menyerukan pengawasan dan regulasi yang lebih ketat terhadap kandungan bahan kimia dalam produk kecantikan,” tukasnya.







