CIBINONG – Pada Kamis, 15 Mei 2025, Pengadilan Negeri Cibinong melakukan eksekusi pembongkaran rumah aktor dan model, Atalarik Syach. Namun Atalarik mengaku sama sekali tidak menerima surat pemberitahuan sebelumnya dan merasa tindakan tersebut dilakukan tanpa proses hukum yang jelas.
Saat peristiwa mengejutkan itu terjadi, Atalarik Syach menyampaikan rasa kecewa dan sedihnya atas proses eksekusi rumah yang dialaminya kemarin.
Ia menyebut proses tersebut dilakukan secara mendadak tanpa adanya pemberitahuan tertulis yang jelas, sehingga tidak memberinya cukup waktu untuk bersiap.
“Cuma tetap agenda eksekusi ini benar-benar nggak manusiawi, dadakan, tidak ada surat resmi,” jelas Atalarik Syach di kawasan Cibinong, Bogor, Kamis, 15 Mei 2025.
“Kemarin ada ngakunya pak RW, tiba-tiba masuk ke saya dua hari sebelum kejadian, masuk, cek-cek, keluar lagi naik sepeda, saya juga bingung kenapa begitu, tiba-tiba ada kejadian ini,” ujarnya.
Ia merasa bahwa pihak berwenang tidak menunjukkan itikad baik dalam memberikan waktu atau ruang baginya untuk menyelamatkan barang-barang penting, seperti alat-alat kebutuhan hidup sehari-hari.
“Kalau dia pegawai kelurahan kenapa nggak titipkan sama dia ya, ada pak RT, pak RW, secarik kertas buat paling nggak bisa pindahin priuk nasi saya deh ke tempat yang lebih pantas, tapi saya nggak dapat waktu untuk itu semua,” katanya.
Dalam kondisi pasrah, Atalarik mengibaratkan pengalaman ini seperti kehilangan besar yang membuatnya berserah kepada Tuhan, meskipun tetap akan memperjuangkan haknya secara hukum.
“Ini saya menganggap kayak kematian, pasrahnya itu sama yang kuasa, tapi urusan duniawinya tetap saya perjuangkan, habis mau dipindahin kemana lagi? Saya kan bukan developer yang rumahnya banyak bisa pindah-pindah,” ungkap Atalarik Syach.
Ia juga menegaskan bahwa rumah tersebut bukan hanya tempat tinggalnya, tapi sudah dihuni oleh keluarganya selama bertahun-tahun.
“Dari 2003 tinggal di sini, ini tuh tempat tinggal anak-anak, keponakan semua juga, ada adik saya, ada abang saya di situ,” jelasnya.
Meski sebagian rumahnya telah dieksekusi, Atalarik memilih untuk tetap bertahan di area yang masih aman dan belum terkena penggusuran.
“Tetap tinggal di sini lah. Sementara ada garasi yang aman ada bagian yang nggak kena eksekusi jadi semua barang di rumah sana lagi pindah ke sini,” pungkasnya.







