TANGSELXPRESS – Kementerian Kebudayaan hari ini menyelenggarakan kegiatan ‘Layar Basua’ di Plasa Insan Berprestasi, Kementerian Kebudayaan.
Layar merepresentasikan dunia film sebagai cerminan imajinasi dan budaya bangsa. Sementara Basua, yang berasal dari bahasa Minangkabau, mencerminkan esensi pertemuan: menyambung rasa, berbagi cerita, dan mempererat ikatan.
Sebuah forum diskusi sinematik yang tidak hanya menghadirkan suasana penuh kehangatan dan silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang apresiasi terhadap pencapaian dan tantangan dunia perfilman Indonesia.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon dalam sambutannya menyebutkan bahwa forum Layar Basua bukan sekadar ajang bercerita, tetapi tempat menyulam harapan, merawat kolaborasi, dan merancang masa depan perfilman nasional bersama.
“Kita ingin platform seperti ini dapat menjadi medium dialog yang produktif dalam membahas perfilman nasional,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya, Minggu (27/4/2025).
“Karena seperti kita tahu bahwa perfilman Indonesia sebagai salah satu garda terdepan diplomasi budaya dan merupakan wajah dari sebuah perkembangan kebudayaan kita,” sambungnya.
Fadli menambahkan bahwa perkembangan film Indonesia sedang menuju ke arah yang sangat positif dan menggembirakan. Tercatat, pada akhir tahun 2024, jumlah penonton film Indonesia sudah lebih dari 81 juta dengan jumlah produksi lebih dari 200 film.
“Dan sekarang film-film kita sangat aktif hadir di berbagai festival film Internasional antara lain International Film Festival Rotterdam, Berlinale International Film Festival, Hong Kong International Film and Tv Market, hingga Cannes Film Festival,” terangnya.
“Prestasi ini merupakan cerminan dari daya saing dan kualitas sinema kita patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya,” imbuhnya.
Selain hal tersebut, Menbud Fadli Zon juga berharap kedepannya akan lahir festival-festival film daerah yang semakin tumbuh dan inklusif dalam melahirkan film nasional yang berkualitas.
“Selain itu, kami juga berharap agar ke depan semakin banyak festival film yang digelar di berbagai lingkungan pendidikan, mulai dari kampus, pesantren, hingga sekolah,” tuturnya.
“Kegiatan semacam ini penting untuk mendorong apresiasi terhadap beragam karya film, termasuk film pendek, dokumenter, dan berbagai genre lainnya. Lebih dari itu, upaya ini juga diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap dunia perfilman,” lanjutnya.
Untuk itu, lanjut Menbud, menegaskan kembali bahwa kehadiran Kementerian Kebudayaan merupakan instrumen strategis yang dapat dimanfaatkan oleh para insan perfilman untuk memperkuat dan memajukan ekosistem perfilman nasional.
“Ada tiga hal krusial yang perlu kita pastikan dalam menjalankan peran ini. Pertama, getting the institution right—bagaimana memastikan lembaga ini hadir dengan struktur dan fungsi yang tepat,” jelasnya.
“Kedua, getting the intervention right—yakni memastikan setiap kebijakan dan program intervensi benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan. Dan ketiga, getting the,” tukasnya.







