TANGSELXPRESS – Semula, Indra adalah sosok pria yang tidak pernah mempercayai tahayul, termasuk keberadaan jin atau hantu. Mahasiswa fakultas hukum universitas ternama di Kota Solo ini memilih menggunakan logika dibandingkan dengan alam gaib.
“Setan, hantu, dan sejenisnya itu gak ada. Itu hanya akan merusak logika kita saja,” kata Indra kepada teman-temannya saat akan mendaki Gunung Lawu.
Kamis itu, Indra bersama Wiwik, Endang, dan Yudi ingin menaklukkan puncak Lawu. Puncak yang berada di ketinggian 3.256 Mdpl, berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Mereka berempat, tiba di basecamp di Kawasan Tawang Mangu, Jawa Tengah sekitar pukul 14.00 WIB setelah melalui perjalanan darat dari Kota Solo.
“Mas hati-hati ya kalau naik. Ini Hari Kamis, malam Jumat Legi. Kalau mau naik, izin dulu sama yang mbaurekso Gunung Lawu. Biar perjalanan lancar, selamat dan gak ada gangguan,” pesan salah satu warga sekitar basecamp kepada Indra dan tiga temannya.
Indra tak menggubris pesan yang disampaikan warga tadi. Dia memilih mengabaikan dan menyeruput coklat panas sambil membatin. “Omong opooo….(omong apaaa).”
Waktu pendakian telah tiba. Mereka memilih berangkat lewat jalur Candi Cetho. Setelah Salat Isya, mereka berempat mulai mendaki Gunung Lawu yang memang dikenal angker itu.
Malam itu, hanya mereka berempat yang mendaki Gunung yang sempat dikaitkan dengan Mak Lampir, tokoh makhluk halus yang sempat membuat heboh karena ditayangkan di drama radio dan film.
Hujan yang cukup deras, tak menghalangi langkah kaki mereka untuk naik terus ke puncak. Indra sebagai team leader sering berada di depan meninggalkan tiga temannya yang terengah-engah di belakang. Langkah kakinya sangat sigap menembus malam yang makin gelap dan dingin.
“Ndra, tungguin napa. Napas gua abis tau Ndra,” keluh Yudi. “Cemen lu Yud, badan doang yang gede,” balas Indra.
Jarak antara Indra dan tiga temannya makin jauh. Indra tak peduli, rasa sombongnya seolah mengajaknya agar cepat sampai puncak Gunung Lawu.
Namun, bukannya menuju arah puncak, tanpa sadar kakinya mengarahkan Indra ke tempat lain. Tempat yang selama ini dikenal sebagai kerajaan jin. Yahh….itulah Pasar Setan. Pasar yang paling ditakuti dan dihindari para pendaki.
Pasar Setan juga dikenal sebagai tempat pertemuan para bangsa lelembut seantero Gunung Lawu. Di tempat itulah, para jin melakukan jual beli layaknya di pasar.
Daaan, malam itu Indra benar-benar berada di Tengah Pasar Setan. Yang dia lihat, begitu banyaknya orang melakukan jual beli barang. Baik hasil kebon maupun barang lainnya.
“Haaaaah…di mana aku ini. Bukannya tadi aku bersama tiga temanku sedang menuju puncak Gunung Lawu,” batin Indra penuh bingung.
Indra ingin segera keluar dari pasar itu. Namun, dia selalu kembali ke tempat semula setelah berputar-putar untuk keluar dari pasar.
Indra makin bingung. Setiap orang yang dia tanya tentang arah jalan keluar, tak satupun yang mau menjawab. Orang-orang yang dia temui, seolah tak melihat dan mendengarnya.
“Jangan-jangan, aku berada di Pasar Setan,” batin Indra yang kemudian dunianya terasa gelap dan dingin.
Indra baru sadar setelah berada di rumah sakit di Kota Solo. Kepalanya masih terasa sangat berat saat dia sadar dari siuman.
“Kamu gak sadarkan diri selama lima hari. Beruntung, kami menemukanmu. Kalau enggak, keluargamu pasti sudah menangisimu saat ini,” kata Yudi.
Kisah mistis keberadaan Pasar Setan di Gunung Lawu, adalah salah satu cerita angker tentang gunung ini. Gunung Lawu yang terletak di antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah gunung yang menyimpan banyak cerita horor di dalamnya.
Pasar Setan Gunung Lawu menjadi salah satu misteri yang paling terkenal di gunung berketinggian 3.256 Mdpl ini.
Dikutip dari jurnal berjudul “Mitos-Mitos di Gunung Lawu: Analisis Struktur, Nilai Budaya, dan Kepercayaan” (2017) oleh Mirza Krisna Gita Pratiwi, keberadaan Pasar Setan Gung Lawu dikaitkan dengan tataran kosmologis yang berkaitan dengan hal gaib.
Berdasarkan teori strukturalisme Levi-Strauss, mitos ini diyakini oleh masyarakat setempat yang mempercayai nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Masyarakat lokal justru tidak terganggu dengan hal-hal gaib tersebut.
Mereka justru menghormati hal-hal yang bersifat metafisika karena bukan hanya manusia saja yang hidup di dunia. Melainkan ada makhluk dari dimensi lain yang mengisi kehidupan dunia yang salah satunya berada di Pasar Setan Gunung Lawu.
Keberadaan Pasar Setan ini digambarkan berwujud tumpukan bebatuan. Kegiatan pasar ini terjadi pada malam hari, khususnya malam Jumat.
Terkadang para pendaki dan masyarakat setempat dapat merasakan bagaimana makhluk gaib bertransaksi. Bahkan, tidak jarang ada pendaki yang merasa seperti diajak bertransaksi di pasar tersebut.
Pasar Setan Gunung Lawu ini wujudnya tidak kasat mata. Akan tetapi pendaki dan masyarakat bisa mendengar suara keramaian seperti di pasar.
Posisi Pasar Setan diyakini berada di sekitar jalur pendakian Gunung Lawu dari Candi Cetho. Jalur ini terkenal cukup terjal dan sulit dilalui karena sering diselimuti kabut.
Ada banyak cekungan yang sering membuat pendaki bingung hingga tersesat. Pasar setan sebenarnya merupakan sabana di jalur pendakian Candi Cetho di Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah.
Di tempat itulah sejumlah pendaki mengaku pernah mendengar suara riuh layaknya di pasar. Bahkan, ada yang menawarkan barang-barang.
Konon, jika mendengar suara itu, pendaki harus membuang apa saja layaknya sedang bertransaksi jual beli di pasar.(*)







