TANGSELXPRESS – Bantuan sosial (bansos) yang dari pemerintah menyusul kebijakan kenaikan BBM bersubsidi dianggap bukan solusi untuk menekan kesulitan masyarakat menegah ke bawah. Apalagi, bantuan tersebut hanya untuk enam bulan ke depan.
Anggota Komisi VII DPR RI Diah Nurwitasari mengatakan, data penerima bansos hingga saat ini masih jadi PR besar pemerintah, sehingga sebaran bisa tidak tepat sasaran.
“Bantuan sosial yang diberikan pemerintah kepada sekelompok masyarakat juga masih terkendala pada data penerima. Data tersebut masih belum tersinkronisasi, yang belum bisa memisahkan masyarakat mana yang berhak menerima,” tegas Diah seperrti dikutip dari laman DPR RI dalam keterangan persnya yang diterima Parlementaria, Kamis (8/9/2022).
Dampak panjang kenaikan BBM bersubsidi dianggap tidak dapat dijawab hanya dengan pemberian bansos selama beberapa bulan. Sedangkan dampak kenaikan BBM akan lebih panjang, sehingga solusi tersebut tidak komprehensif. Politisi PKS ini lalu menyindir slogan HUT ke-77 RI, “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat” yang dinilai hanya slogan tanpa makna. Kenaikan harga BBM justru akan bertolak belakang dengan slogan tersebut.
Saat mengikuti rapat kerja Komisi VII dengan Menteri ESDM, Kamis lalu, legislator dapil Jawa Barat II ini berharap pemerintah menganulir kebijakan kenaikan BBM ini. Pemerintah masih bisa mendengar suara rakyat yang sedang kesusahan.
“Kami percaya pemerintah memiliki hati nurani untuk mendengarkan suara masyarakat dan memutuskan sebuah kebijakan yang meringankan dan berpihak kepada masyarakat,” harapnya.







