TANGSELXPRESS- Pagi belum benar-benar datang ketika asap tipis mulai mengepul dari tungku kayu bakar di rumah produksi milik Khoiri Rosyidin. Di sudut ruangan sederhana itu, pria berusia 40 tahun tersebut sibuk mengaduk dan mencuci kedelai dalam dandang besar. Sementara sang istri, Sisika, menyiapkan tahapan produksi berikutnya.
Bagi pasangan suami istri itu, hari-hari hampir selalu dimulai sebelum matahari terbit. Aroma kedelai rebus, panas tungku, dan suara mesin penggiling telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak memulai usaha tempe pada 2009.
Dari usaha rumahan tersebut, tempe yang dahulu hanya dipasarkan ke pasar dan warung sekitar kini mampu memenuhi kebutuhan tiga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Dulu paling produksi 40 kilo sekali bikin untuk dijual ke pasar dan warung,” ujar Khoiri.
Kini produksinya meningkat berkali-kali lipat. Dalam satu kali produksi, mereka dapat menghabiskan hingga 150 kilogram kedelai untuk memenuhi permintaan dapur SPPG.
Berawal dari Usaha Rumahan
Perjalanan Khoiri dan Sisika membangun usaha tempe tidak berlangsung singkat. Selama bertahun-tahun, keduanya menjalani usaha dengan ritme sederhana.
Tempe diproduksi sendiri untuk kemudian dijual ke pasar tradisional dan warung-warung sekitar dengan harga sekitar Rp5.000 hingga Rp6.000 per potong.
Seluruh proses produksi dikerjakan berdua, mulai dari membersihkan kedelai, merebus, menggiling, memberikan ragi, hingga mengemas tempe.
Bagi Khoiri, menjaga kualitas merupakan hal yang tidak bisa ditawar. Ia bahkan masih mempertahankan proses perebusan kedelai menggunakan tungku kayu bakar.
Menurutnya, penggunaan kayu bakar memberikan cita rasa yang berbeda dibandingkan proses menggunakan kompor biasa.
“Kita pake bahan bakarnya kayu karena kayu kan di sini masih banyak, dari rasa kan juga lebih enak,” katanya.
Namun, ada satu tahapan yang mendapat perhatian khusus dari Khoiri, yakni proses pencucian kedelai.
Untuk memastikan kebersihan bahan baku, ia memilih turun tangan langsung. Air yang digunakan berasal dari sumber mata air.
“Kalau pencuciannya tidak bersih, kualitas tempenya pasti kurang bagus,” ujar Khoiri.
Kesempatan Datang dari Program MBG
Kesempatan untuk menjadi pemasok dapur MBG datang secara tidak terduga.
Awalnya, Sisika mendapatkan informasi dari seorang teman bahwa dapur SPPG membuka peluang kerja sama dengan pelaku UMKM lokal.
Keduanya kemudian mencoba menawarkan tempe hasil produksinya.
“Awalnya cuma coba-coba, nggak berharap banyak,” kata Sisika.
Namun, setelah sampel tempe dikirimkan, pihak dapur SPPG memberikan sejumlah catatan. Salah satunya terkait penggunaan ragi agar hasil fermentasi tempe sesuai dengan standar yang dibutuhkan.
Tempe juga diminta dibuat lebih padat dan rapi.
Sebelumnya, Khoiri biasa menggunakan dua sendok makan ragi untuk setiap 10 kilogram kedelai. Untuk memenuhi kebutuhan MBG, takaran tersebut dikurangi menjadi sekitar satu setengah sendok makan.
Khoiri kemudian mengikuti seluruh masukan tersebut dan menyesuaikan proses produksinya.
Kesempatan itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 14 April 2025, tempe produksi Khoiri dan Sisika resmi diterima untuk menyuplai dapur MBG.
Sejak saat itu, skala usaha mereka berkembang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Produksi Meningkat, Warga Sekitar Ikut Dilibatkan
Jika sebelumnya mereka memproduksi sekitar 240 kilogram kedelai dalam satu minggu untuk memenuhi kebutuhan pasar, kini satu kali pengiriman ke dapur MBG saja dapat mencapai 150 kilogram.
Pengiriman tersebut bahkan bisa dilakukan hingga tiga kali dalam sepekan.
Meningkatnya permintaan membuat Khoiri dan Sisika tidak lagi mampu mengerjakan seluruh proses produksi hanya berdua.
Mereka kemudian mulai melibatkan warga sekitar untuk membantu sejumlah tahapan produksi.
“Kadang tidak sanggup kalau dikerjakan berdua saja,” ujar Sisika.
Bagi pasangan tersebut, perkembangan usaha bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk ikut mendapatkan penghasilan dari aktivitas produksi tempe.
Menjaga Kualitas Jadi Tantangan
Di tengah perkembangan usaha yang semakin besar, Khoiri mengaku tantangan terbesar justru terletak pada menjaga kualitas produk agar tetap konsisten.
Produksi dalam jumlah besar membutuhkan ketelitian pada setiap tahapan, mulai dari pemilihan dan pencucian kedelai hingga proses fermentasi.
Meski demikian, di balik kesibukan tersebut terselip kebanggaan bagi Khoiri dan Sisika.
Tempe yang selama bertahun-tahun hanya dikenal di pasar dan warung sekitar kini menjadi bagian dari menu yang disajikan melalui Program Makan Bergizi Gratis.
Bagi mereka, perjalanan dari rumah produksi sederhana dengan tungku kayu hingga menjadi pemasok dapur MBG menjadi bukti bahwa usaha kecil yang dijalankan dengan ketekunan dan menjaga kualitas dapat berkembang sekaligus memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.(Sumber: BGN)







