JAKARTA– Kabupaten Kendal terus menunjukkan geliat sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri baru di Indonesia. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal menyiapkan sekitar 3.000 hektare lahan industri guna menarik investasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Langkah strategis ini diinisiasi langsung oleh Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, sebagai upaya memperkuat iklim investasi yang kompetitif dan ramah bagi pelaku usaha, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Pemkab Kendal membuka peluang seluas-luasnya bagi investor dengan berbagai kemudahan perizinan dan dukungan infrastruktur,” ujar Dyah dalam Podcast Relasi di kantor redaksi Beritasatu.com, Minggu (26/4/2026).
Pengembangan lahan industri tersebut dilakukan melalui sejumlah kawasan strategis, di antaranya perluasan Kawasan Ekonomi Khusus Kendal tahap kedua seluas 1.200 hektare, serta pengembangan Kawasan Industri Siver di wilayah pesisir dengan luas serupa.
Kombinasi pengembangan ini diharapkan menjadikan Kendal sebagai pusat industri baru di Jawa Tengah sekaligus meningkatkan daya saing daerah di tingkat nasional.
Tidak hanya sektor manufaktur, Pemkab Kendal juga mendorong investasi di sektor pendukung seperti perhotelan, apartemen, dan hunian representatif. Langkah ini bertujuan agar perputaran ekonomi dari investasi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Dampak investasi tersebut mulai terlihat signifikan. Hingga akhir 2025, lebih dari 65.000 tenaga kerja lokal telah terserap di KEK Kendal. Masuknya investor mendorong pembangunan berbagai pabrik dan fasilitas produksi, sehingga membuka lapangan kerja luas di sektor industri maupun jasa pendukung.
Selain itu, tingkat pengangguran terbuka di Kendal berhasil ditekan dari 8 persen pada 2020 menjadi 4,6 persen pada akhir 2025. Saat ini, tercatat sebanyak 258 perusahaan telah beroperasi di wilayah tersebut.
Dyah menegaskan, tantangan berikutnya adalah memastikan kesiapan sumber daya manusia (SDM) agar mampu memenuhi kebutuhan industri yang terus berkembang. Untuk itu, Pemkab Kendal menjalankan berbagai program peningkatan kualitas tenaga kerja, termasuk penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan berbasis kebutuhan industri.
Melalui Dinas Tenaga Kerja, pemerintah juga melakukan revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) serta menjalin kerja sama dengan perusahaan di Kawasan Industri Kendal. Program pelatihan dilakukan dengan skema link and match agar peserta memiliki keterampilan yang relevan dan siap kerja.
“Harapan kami, masyarakat Kendal tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa terlibat langsung bekerja di perusahaan yang ada di daerah,” kata Dyah.
Upaya tersebut dinilai efektif dalam meningkatkan kesiapan tenaga kerja lokal, termasuk lulusan SMK, untuk langsung terserap ke dunia industri tanpa harus merantau ke luar daerah.
Seiring pesatnya pertumbuhan sektor industri, ekonomi Kendal juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan mencapai 7,99 persen pada 2025. Dengan strategi pro investasi yang berkelanjutan, Kendal optimistis mampu menarik lebih banyak investor sekaligus memastikan manfaat ekonomi dirasakan luas oleh masyarakat.







