NAMAKU Bima. Aku seorang guru honorer di sebuah sekolah dasar kecil di pedalaman Jawa Tengah. Hidupku sederhana. Gajiku tidak besar, tapi cukup untuk makan dan memperbaiki rumah tua peninggalan orang tuaku yang berdiri di pinggir desa.
Desa tempatku tinggal dikelilingi sawah luas dan hutan jati tua. Jika sore tiba, angin dari arah perbukitan membawa bau tanah basah dan daun kering. Malam di desa itu selalu sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing.
Sejak kecil aku sering mendengar cerita tentang makhluk halus yang tinggal di hutan atau sungai. Tapi aku tidak pernah benar-benar mempercayainya.
Sampai aku menemukan cincin itu.
Hari itu sore mendung. Sepulang mengajar aku berjalan menyusuri jalan setapak di dekat sungai kecil di belakang desa.
Air sungai sedang surut karena musim kemarau. Batu-batu sungai terlihat jelas. Saat aku melangkah melewati tepian, sesuatu berkilau terkena cahaya matahari.
Aku berhenti.
Di antara lumpur dan kerikil, ada sebuah cincin perak.
Bentuknya tidak biasa. Di bagian atasnya ada ukiran seperti mahkota kecil dengan lekukan-lekukan halus.
Aku memungutnya.
Saat cincin itu menyentuh telapak tanganku, entah kenapa ada rasa dingin yang menjalar sampai ke lengan.
Aku mengerutkan kening, tapi tetap memasukkannya ke saku.
Aku tidak tahu bahwa benda kecil itu akan mengubah hidupku.
Kemunculan Arimbi
Malamnya aku sedang memeriksa buku tugas murid di ruang depan rumah. Lampu minyak menyala redup karena listrik di desa sering mati.
Cincin itu tergeletak di meja.
Iseng aku memasangnya di jari manis.
Pas sekali.
Saat itulah lampu tiba-tiba berkedip.
Angin dingin berhembus dari dalam rumah, padahal semua jendela tertutup.
Lalu aku mendengar suara perempuan.
“Terima kasih…”
Aku langsung menoleh.
Di dekat pintu kamar berdiri seorang perempuan.
Tubuhku kaku.
Dia memakai kebaya lama berwarna pucat. Rambutnya panjang menjuntai sampai pinggang. Kulitnya putih seperti tidak pernah terkena matahari.
Tapi wajahnya cantik.
Sangat cantik.
“Aku tidak akan menyakitimu,” katanya lembut.
Suara itu seperti datang dari tempat yang jauh.
“Aku… Arimbi.”
Tangannya menunjuk cincin di jariku.
“Itu penjaraku selama puluhan tahun.”
Malam itu Arimbi menceritakan kisahnya.
Dulu ia adalah perempuan dari keluarga terpandang di daerah ini. Ada seseorang yang iri padanya dan mengutuknya.
Rohnya diikat pada cincin itu.
Selama puluhan tahun cincin itu berpindah tangan, tapi tidak ada yang benar-benar membebaskannya.
“Aku bisa keluar karena kau memakainya tanpa niat buruk,” katanya.
Aku takut, tentu saja.
Tapi Arimbi tidak terlihat seperti makhluk jahat.
Ia malah tampak sangat bersyukur.
“Aku ingin membalas kebaikanmu,” katanya.
Sejak malam itu, Arimbi sering muncul di rumahku.
Bantuan yang Tidak Terlihat
Kehadiran Arimbi mulai terasa dalam kehidupan sehari-hariku.
Kadang aku pulang dari sekolah dan mendapati makanan hangat sudah tersedia di meja.
Padahal aku tidak memasak.
Suatu pagi aku hampir terlambat berangkat mengajar. Arimbi tiba-tiba muncul di dekat pintu.
“Bima… jangan lewat jalan utara hari ini.”
Aku menurutinya.
Siangnya aku mendengar kabar bahwa ada pohon tumbang menutup jalan itu.
Sejak saat itu aku mulai mempercayainya.
Kadang ia duduk di kursi bambu di ruang tamu sambil bercerita tentang masa lalu.
Tentang keluarganya.
Tentang hidupnya yang hilang karena kutukan.
Aneh sekali, tapi aku mulai merasa tidak sendirian.
Pertemuan dengan Ratih
Semua berubah ketika aku bertemu Ratih.
Ia gadis dari desa sebelah. Aku bertemu dengannya di pasar ketika membeli sayur.
Ratih sederhana, ramah, dan selalu tersenyum.
Kami mulai sering bertemu.
Kadang ia datang ke rumah membawa makanan.
Kadang kami berjalan di pematang sawah saat senja.
Perlahan-lahan aku menyadari perasaanku.
Aku jatuh cinta.
Cemburu yang Mengubah Segalanya
Malam setelah Ratih pertama kali datang ke rumah, Arimbi muncul dengan wajah berbeda.
“Siapa perempuan itu?” tanyanya.
“Teman,” jawabku.
Arimbi menatapku lama.
“Aku tidak suka dia.”
Awalnya aku tidak menganggapnya serius.
Tapi beberapa hari kemudian Ratih datang dengan wajah pucat.
“Mas Bima… aku takut.”
Ia bilang setiap malam ada suara perempuan menangis di dekat jendelanya.
Kadang ada bayangan berdiri di pohon belakang rumah.
Aku mulai curiga.
Malam itu aku memanggil Arimbi.
“Kau mengganggu Ratih?”
Arimbi menatapku.
“Aku hanya melindungimu.”
Gangguan terhadap Ratih semakin parah.
Suatu malam Ratih pingsan karena melihat perempuan berambut panjang berdiri di dekat sumurnya.
Desa mulai membicarakan kejadian aneh itu.
Aku tahu siapa pelakunya.
“Kenapa kau lakukan ini?” tanyaku marah.
Arimbi berdiri di sudut ruangan.
“Aku tidak ingin kehilanganmu.”
“Kau bukan manusia! Kau tidak bisa memaksaku!”
Wajah Arimbi berubah.
Matanya menjadi gelap. Dia menangis, terlihat sangat sedih, sedih sekali.
“Aku sudah menunggu puluhan tahun untuk seseorang yang membebaskanku,” katanya dengan suara bergetar.
“Dan sekarang kau memilih perempuan lain?”
Saat itu aku sadar.
Arimbi bukan lagi sekadar teman.
Ia mulai mengikat hidupku.
Pertolongan Kyai Sidiq
Akhirnya aku mencari bantuan kepada seorang ulama yang dihormati di desa tetangga.
Namanya Kyai Sidiq.
Aku menceritakan semuanya.
Beliau mengangguk pelan.
“Roh yang terlalu lama terikat pada manusia bisa berubah,” katanya.
“Awalnya bersyukur. Lama-lama ingin memiliki.”
Beliau menatap cincin itu.
“Kita harus memutus ikatan itu.”
Malam itu Kyai Sidiq datang ke rumahku.
Beliau membaca doa-doa panjang.
Udara rumah tiba-tiba menjadi sangat dingin.
Pintu terbanting sendiri.
Lampu pecah.
Arimbi muncul di tengah ruangan.
Wajahnya penuh amarah.
“Kau mengkhianatiku, Bima.”
Aku menunduk.
Kyai Sidiq mengangkat tangannya.
“Wahai roh yang terikat, lepaskan dirimu dari manusia ini.”
Arimbi menjerit.
Cincin di jariku terasa panas seperti terbakar.
Kyai Sidiq memukul cincin itu dengan tongkatnya sambil membaca doa.
Cincin itu retak.
Arimbi menatapku untuk terakhir kalinya.
Di matanya ada kesedihan yang dalam.
“Bima…”
Tubuhnya perlahan memudar.
Lalu hilang. Yang tertinggal hanya rasa sedih….
Setelah itu semuanya kembali normal.
Ratih tidak lagi diganggu.
Desa kembali tenang.
Aku akhirnya menikah dengan Ratih beberapa tahun kemudian.
Tapi sampai sekarang…
Kadang di malam yang sangat sunyi…
Saat angin dari hutan jati berhembus pelan…
Aku merasa ada seseorang duduk di kursi bambu di ruang tamu.
Diam.
Menatapku.
Seperti dulu.
Dan kadang aku bertanya dalam hati…
Apakah Arimbi benar-benar sudah pergi.
Atau…
Ia masih di sini.
Menunggu.







