PADA akhir tahun 1990-an, berbagai jenis permainan tradisional seperti congklak, gasing, petak umpet, dan layang-layang telah menjadi pilihan utama bagi anak-anak di Indonesia. Selain berfungsi sebagai sumber hiburan, permainan-permainan ini juga memiliki kontribusi yang signifikan dalam pengembangan keterampilan motorik anak, pembentukan nilai-nilai sosial, serta mendorong terjadinya interaksi antar generasi yang melibatkan anak-anak, orangtua, dan anggota keluarga lainnya.
Pada periode tersebut, permainan tradisional berfungsi sebagai salah satu media utama bagi anak untuk belajar bersosialisasi dan memahami norma-norma sosial yang berlaku, sebelum adanya dominasi teknologi digital yang mulai merambah secara luas.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, khususnya sejak awal tahun 2000-an, penetrasi teknologi dan internet mulai membawa perubahan yang drastis dalam cara anak-anak bermain.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2018), sekitar 60% anak-anak di Indonesia sudah mengakses internet, yang menyebabkan permainan daring mulai mengambil alih peran permainan tradisional dalam kehidupan sehari-hari anak.
Pergeseran ini tidak hanya mengakibatkan berkurangnya interaksi sosial secara langsung, tetapi juga mengurangi kesempatan bagi anak-anak untuk memperkuat hubungan antargenerasi. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan pendidik dalam upaya mempertahankan keberlangsungan nilai-nilai sosial dan budaya yang biasanya ditanamkan melalui permainan tradisional.
Dengan demikian, fenomena ini menunjukkan pentingnya perhatian yang lebih besar terhadap pengaruh teknologi terhadap pola bermain anak dan implikasinya terhadap perkembangan sosial mereka. Penting bagi orang tua dan pendidik untuk menciptakan keseimbangan antara penggunaan teknologi dan permainan tradisional, agar anak-anak tidak hanya terpapar pada dunia digital, tetapi juga tetap terhubung dengan warisan budaya yang telah ada sebelumnya.
Sebagai tanggapan terhadap berkurangnya praktik permainan tradisional, berbagai komunitas mulai bermunculan dengan tujuan untuk menghidupkan kembali budaya bermain. Salah satu contohnya adalah Komunitas Bermain (@komunitasbermain) yang memiliki lebih dari 54 ribu pengikut aktif.
Komunitas ini secara rutin mengadakan kegiatan bermain di ruang publik, termasuk taman kota dan area olahraga, yang melibatkan peserta dari berbagai rentang usia. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menekankan pentingnya interaksi fisik serta komunikasi antar generasi. Keterlibatan aktif dari komunitas ini mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya lokal, sekaligus meningkatkan kebanggaan masyarakat terhadap nilai-nilai tradisional (Handayani, 2021).
Walaupun menghadapi tantangan seperti biaya sewa lokasi publik atau keterbatasan akses, semangat untuk melestarikan tetap tinggi berkat kerjasama yang erat di antara anggota.
Aktivitas komunitas ini menekankan pendidikan keterampilan sosial melalui permainan fisik, menyediakan ruang untuk interaksi langsung di tengah dominasi perangkat digital. Pendekatan ini berkontribusi pada pemulihan nilai sosial dari permainan tradisional dan menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak maupun orang dewasa.
Digitalisasi Permainan Tradisional
Selain peran masyarakat, pemerintah juga berperan aktif dalam mendukung pelestarian permainan tradisional melalui inisiatif digitalisasi. Beberapa aplikasi seperti Congklak kini memungkinkan anak-anak untuk menikmati permainan tradisional tanpa harus menggunakan papan fisik, memanfaatkan tren digital yang telah meluas di kalangan anak-anak dan remaja (APJII, 2022).
Permainan tradisional lainnya, seperti Gobak Sodor, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi permainan daring multiplayer, sehingga interaksi sosial tetap terjaga meskipun dilakukan secara virtual. Penelitian oleh Wulandari & Anggraini (2021) menekankan bahwa pengintegrasian elemen sosial ke dalam permainan digital dapat mendorong partisipasi anak dalam upaya pelestarian budaya.
Kegiatan nyata juga dilaksanakan untuk mendukung promosi permainan tradisional. Contohnya, pada Car Free Day di Jakarta, 20 Juli 2025, diadakan pameran yang menampilkan 20 jenis permainan tradisional disertai dengan workshop, melibatkan berbagai kementerian serta komunitas untuk merayakan Hari Anak Nasional.
Selain itu, Kementerian Ekonomi Kreatif memperkenalkan permainan papan lokal di Bundaran HI, dengan penekanan pada nilai-nilai kebangsaan, keberagaman, dan kolaborasi (Republika, 2025). Dukungan dari pemerintah serta upaya digitalisasi ini berperan penting dalam memastikan bahwa permainan tradisional tetap relevan dan dapat diakses oleh generasi muda yang sudah terbiasa dengan teknologi.
Promosi permainan tradisional dapat dilakukan melalui berbagai saluran, seperti festival budaya, media sosial, dan integrasi ke dalam kurikulum pendidikan. Festival yang diadakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan pada tahun 2022 di Jakarta berhasil menarik lebih dari 10.000 peserta, yang menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pelestarian budaya. Media sosial seperti TikTok dan YouTube juga terbukti efektif dalam memperkenalkan tutorial atau tantangan permainan tradisional.
Menurut laporan YouGov Indonesia (2023), 62% generasi muda menunjukkan minat untuk mencoba aktivitas baru setelah melihat konten terkait di platform digital tersebut.
Integrasi permainan tradisional dalam proses pembelajaran di sekolah dapat membantu pengembangan karakter siswa, termasuk aspek kerjasama, toleransi, dan penghargaan terhadap budaya lokal. Selain itu, sektor swasta juga mulai mengimplementasikan permainan tradisional dalam program pengembangan karyawan, seperti lomba bakiak, tarik tambang, dan engklek, untuk memperkuat kerjasama, membangun kepercayaan, serta menciptakan budaya perusahaan yang harmonis.
Langkah ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai lokal yang kaya, sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan kolaboratif.
Permainan tradisional memiliki potensi yang signifikan sebagai penghubung antar generasi. Selain berfungsi sebagai sumber hiburan, permainan ini juga berperan sebagai sarana pendidikan, komunikasi, dan pelestarian budaya.
Dukungan dari masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, serta sektor swasta sangat penting agar permainan tradisional tetap relevan dan mampu beradaptasi di zaman modern. Rachmawati (2021) menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam usaha pelestarian permainan tradisional untuk memastikan bahwa warisan budaya tetap terjaga.
Kerja sama antara berbagai pihak ini menciptakan lingkungan yang mendukung keberlangsungan permainan, mendorong inovasi dalam pengembangan dan penyampaian, serta memperkaya budaya setempat.
Dengan cara ini, anak-anak dapat belajar dan berkembang sambil memahami nilai-nilai dan tradisi yang ada dalam permainan tradisional. Pendekatan ini membuat permainan tradisional tetap relevan di era digital dan memberikan dampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan, sekaligus memastikan keberlanjutan budaya dan nilai-nilai sosial yang telah ada sejak lama. (*)
Penulis:
Endra
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi
Universitas Sahid Jakarta







