TANGSELXPRESS- Fenomena downgrade lifestyle ramai diperbincangkan di media sosial seiring perubahan pola konsumsi masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Tren ini mencerminkan upaya masyarakat menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan keuangan yang dimiliki.
Perubahan tersebut terlihat dari kebiasaan memilih produk yang lebih terjangkau hingga mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan sekunder. Sebagian masyarakat mulai beralih ke merek perawatan kulit yang lebih murah, membatasi pembelian kopi di kafe, hingga menggunakan transportasi umum untuk menekan biaya sehari-hari.
Apa Itu Downgrade Lifestyle?
Downgrade lifestyle merupakan upaya menyesuaikan gaya hidup dengan menurunkan pengeluaran agar sejalan dengan kondisi keuangan. Penyesuaian ini tidak selalu berarti menghilangkan seluruh kebutuhan atau aktivitas yang sebelumnya menjadi kebiasaan.
Fenomena tersebut berkaitan dengan istilah trading down, yaitu keputusan konsumen memilih produk alternatif dengan harga lebih terjangkau. Selain mengganti merek, masyarakat juga dapat mengurangi jumlah pembelian atau frekuensi kegiatan yang membutuhkan biaya tambahan.
Ekonom sekaligus Direktur Next Policy, Yusuf Wibisono, menjelaskan bahwa penyesuaian konsumsi dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni mengganti produk mahal dengan alternatif yang lebih murah dan mengurangi kuantitas konsumsi.
“Jadi kelas menengah ini melakukan penurunan konsumsi dengan dua cara, yang pertama down trading. Kedua, mereka melakukan penurunan konsumsi dengan cara menurunkan kuantitas,” ujar Yusuf dalam dialog Pro 3 RRI, Minggu (18/10/2026).
Pola Belanja Masyarakat Mulai Berubah
Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari pergeseran alokasi pengeluaran masyarakat. Meski aktivitas konsumsi masih tumbuh, sejumlah kategori belanja mencatat penurunan porsi dibandingkan bulan sebelumnya.
Mengutip Mandiri Spending Index September 2026, belanja masyarakat tumbuh 6,3 persen secara tahunan pada pekan kedua September. Namun, data tersebut juga menunjukkan perubahan komposisi pengeluaran di sejumlah kategori.
Porsi belanja gawai turun dari 17,6 persen pada Agustus menjadi 16,3 persen pada September 2026. Porsi belanja kebutuhan rumah tangga juga turun dari 8,9 persen menjadi 7,9 persen. Sementara itu, kategori fesyen menyusut dari 7 persen menjadi 6,5 persen.
Penurunan porsi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh masyarakat mengalami penurunan daya beli. Pergeseran belanja dapat dipengaruhi oleh perubahan prioritas kebutuhan, kebiasaan konsumsi, maupun tujuan keuangan setiap rumah tangga.
Meski begitu, perubahan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa konsumen semakin selektif dalam mengalokasikan pengeluaran.
Restoran hingga Perhotelan Berpotensi Terdampak
Penyesuaian konsumsi kelas menengah dapat memengaruhi sektor usaha yang mengandalkan pengeluaran masyarakat di luar kebutuhan pokok. Restoran, kafe, pariwisata, dan perhotelan termasuk sektor yang berpotensi merasakan dampak perubahan pola belanja tersebut.
Yusuf mencontohkan masyarakat yang sebelumnya terbiasa makan di luar atau mengunjungi kafe hampir setiap hari. Ketika pendapatan mengalami tekanan, frekuensi kegiatan tersebut dapat dikurangi.
“Misalnya dulu setiap malam keluar makan di luar misalnya, resto atau ke kafe atau ke mana. Sekarang mungkin mereka seminggu cuma dua kali,” ujarnya.
Jika terjadi secara luas dan berkepanjangan, pengurangan frekuensi konsumsi dapat memengaruhi pendapatan pelaku usaha. Dampaknya berpotensi merambat ke permintaan barang dan jasa, aktivitas produksi, hingga kebutuhan tenaga kerja.
Yusuf juga mengaitkan tekanan yang dihadapi kelas menengah dengan menurunnya peran sektor industri manufaktur dalam perekonomian. Menurut dia, pelemahan sektor tersebut dapat mengurangi kesempatan kerja formal yang selama ini menjadi salah satu penopang pendapatan kelompok profesional.
“Jadi peran sektor industri itu menurun dalam perekonomian. Maka kebutuhan terhadap tenaga kerja profesional yang banyak diisi oleh kelas menengah itu menurun,” katanya.
Hemat atau Tanda Tekanan Daya Beli?
Pada dasarnya, downgrade lifestyle dapat menjadi strategi pengelolaan keuangan yang sehat apabila dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan finansial. Memilih produk yang lebih murah, membatasi belanja impulsif, serta mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak dapat membantu menjaga kondisi keuangan rumah tangga.
Namun, penghematan perlu dibedakan dari penurunan konsumsi akibat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Pengurangan pengeluaran sebaiknya tidak mengorbankan kebutuhan makanan bergizi, kesehatan, dan pendidikan.
Karena itu, tren downgrade lifestyle memiliki dua sisi. Di satu sisi, perubahan gaya hidup dapat membantu masyarakat mengatur keuangan dengan lebih bijak. Di sisi lain, jika perubahan tersebut dipicu oleh tekanan pendapatan yang berkepanjangan, fenomena ini dapat menjadi sinyal tantangan terhadap daya beli dan kesejahteraan kelas menengah.







