PERKEMBANGAN teknologi finansial (financial technology atau fintech) telah mengubah cara masyarakat mengelola dan memanfaatkan layanan keuangan. Generasi Z, yang tumbuh seiring kemajuan teknologi digital, merupakan kelompok yang paling dekat dengan penggunaan aplikasi keuangan berbasis digital.
Namun, kedekatan dengan teknologi tidak selalu sejalan dengan tingkat literasi keuangan yang memadai. Banyak siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang telah terbiasa menggunakan dompet digital, paylater, dan transaksi non-tunai, tetapi belum sepenuhnya memahami prinsip dasar pengelolaan keuangan secara bijak.
Rendahnya literasi keuangan pada Generasi Z disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain minimnya pendidikan keuangan formal di sekolah, kuatnya pengaruh budaya konsumtif, serta kemudahan akses terhadap produk keuangan digital tanpa pemahaman risiko jangka panjang. Kondisi ini berpotensi menimbulkan perilaku keuangan yang tidak sehat, seperti pengeluaran impulsif, ketergantungan pada utang digital, dan rendahnya kebiasaan menabung maupun berinvestasi sejak dini. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif yang sistematis untuk membekali siswa SMK dengan pemahaman keuangan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Fintech hadir tidak hanya sebagai inovasi teknologi, tetapi juga sebagai peluang strategis untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Berbagai aplikasi fintech menyediakan fitur perencanaan anggaran, pencatatan pengeluaran, tabungan digital, hingga investasi sederhana yang dapat diakses dengan mudah melalui perangkat seluler. Apabila dimanfaatkan secara tepat, fintech dapat menjadi sarana pembelajaran praktis bagi Generasi Z dalam mengelola keuangan secara mandiri, bertanggung jawab, dan berorientasi masa depan.
Atas dasar tersebut, dosen-dosen Universitas Pamulang menginisiasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul “Mengajarkan Keuangan di Era Fintech untuk Siswa SMK Al-Muhtadin”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan siswa melalui pemahaman konsep dasar pengelolaan keuangan serta pemanfaatan teknologi finansial secara bijak dan produktif. Edukasi ini diharapkan mampu membentuk pola pikir finansial yang sehat serta menumbuhkan kemandirian ekonomi sejak usia sekolah.
Kegiatan pengabdian ini menggunakan metode pendekatan edukatif-partisipatif. Tahap awal dilakukan melalui koordinasi dengan pihak SMK Al-Muhtadin guna memastikan kesiapan pelaksanaan kegiatan. Selanjutnya, penyuluhan dilaksanakan secara tatap muka dengan siswa kelas X, melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, serta contoh penerapan fintech dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini dipilih agar siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga memahami konteks praktis penggunaan fintech dalam pengelolaan keuangan pribadi.
Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sebelumnya belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai perencanaan keuangan, manajemen waktu keuangan, serta pemanfaatan teknologi finansial secara optimal. Banyak siswa menggunakan layanan keuangan digital hanya sebagai alat transaksi, tanpa mempertimbangkan aspek perencanaan dan pengendalian keuangan. Namun, setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, siswa mulai memahami pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menyusun anggaran sederhana, serta memanfaatkan aplikasi fintech untuk memantau pengeluaran dan menabung secara terencana.
Selain itu, pemaparan mengenai fintech sebagai “alat bantu cerdas” dalam pengelolaan keuangan membantu siswa memahami bahwa teknologi keuangan tidak hanya berkaitan dengan konsumsi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk tujuan produktif dan pengembangan masa depan. Melalui contoh visual, simulasi sederhana, dan diskusi terbuka, siswa menjadi lebih percaya diri dalam memahami konsep keuangan yang sebelumnya dianggap rumit dan menakutkan.
Pembahasan kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi literasi keuangan berbasis fintech sangat relevan bagi siswa SMK. Fintech dapat menjadi jembatan antara teori keuangan dan praktik sehari-hari, terutama bagi Generasi Z yang telah akrab dengan teknologi digital. Literasi keuangan yang baik juga berpotensi menumbuhkan minat kewirausahaan, karena siswa mampu memahami arus kas, perencanaan modal, serta pengelolaan risiko keuangan secara lebih rasional.
Berdasarkan hasil kegiatan, dapat disimpulkan bahwa pengajaran keuangan di era fintech perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terstruktur. Program edukasi tidak cukup dilakukan satu kali, melainkan perlu diintegrasikan dalam kegiatan sekolah melalui pendampingan rutin dan penyediaan materi pembelajaran yang relevan. Selain itu, diperlukan buku panduan literasi keuangan digital yang mudah dipahami oleh siswa dan guru sebagai referensi pembelajaran jangka panjang.
Dengan meningkatnya pemahaman literasi keuangan dan pemanfaatan fintech secara bijak, siswa SMK Al-Muhtadin diharapkan mampu mengelola keuangan pribadi dengan lebih mandiri, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Penguasaan literasi keuangan sejak dini menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi muda yang cerdas finansial, produktif, dan adaptif di era digital.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada SMK Al-Muhtadin, Kota Depok, atas sambutan hangat dan kerja sama yang sangat baik selama pelaksanaan kegiatan ini. Apresiasi yang sebesar-besarnya juga diberikan kepada seluruh siswa siswi SMK Al-Muhtadin yang telah berpartisipasi aktif antusias, dan terbuka dalam mengikuti kegiatan.
Penghargaan khusus disampaikan kepada Universitas Pamulang, terutama Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Program Studi S1 Manajemen, yang telah memfasilitasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dukungan kelembagaan ini menjadi fondasi penting bagi terlaksananya program yang bersifat edukatif dan aplikatif bagi masyarakat.
Penulis:
Muhammad Sudargo
Wahyu Wandika
Restu Riansyah
Mahasiswa Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang







