TANGERANG SELATAN- Aktris Aurelie Moeremans mengungkap pengalaman pahitnya sebagai korban child grooming yang dialaminya saat remaja. Pengakuan tersebut ia sampaikan melalui memoarnya berjudul Broken Strings dan diperkuat lewat unggahan di media sosial.
Aktris yang dikenal lewat film Baby Blues itu menyebut adanya perubahan signifikan dalam cara masyarakat memandang isu grooming dibandingkan dengan masa ketika ia pertama kali berani berbicara.
“Aku bersyukur dan senang banget lihat bagaimana Indonesia sudah berkembang,” ujar Aurelie melalui Instagram Story, Senin (12/1/2026).
Aurelie menilai pemahaman publik terhadap isu grooming kini jauh lebih baik. Menurut dia, kesadaran masyarakat meningkat seiring semakin terbukanya diskusi dan edukasi mengenai relasi kuasa serta dampak yang dialami korban.
Ia mengenang masa ketika pertama kali mencoba menyuarakan pengalaman traumatis tersebut. Saat itu, respons publik dinilai masih minim empati.
“Waktu aku masih sangat muda dan pertama kali coba speak up, respons masyarakat jauh berbeda dengan sekarang,” ungkapnya.
Aurelie mengatakan, pada masa tersebut suara korban kerap tidak mendapatkan ruang yang adil. Banyak penyintas justru menghadapi penyangkalan, penghakiman, dan disalahkan atas pengalaman yang dialaminya.
“Dulu, suara korban sering tenggelam, disalahkan, atau dipelintir,” lanjutnya.
Kini, Aurelie melihat adanya pergeseran sikap publik. Ia menilai masyarakat mulai lebih memahami isu grooming secara berimbang, terutama terkait relasi kuasa antara pelaku dan korban.
“Lebih paham soal relasi kuasa. Lebih banyak empati, lebih sedikit penghakiman,” kata Aurelie.
Aurelie menegaskan perubahan tersebut memiliki arti penting bagi para penyintas yang selama ini memilih diam karena takut terhadap reaksi lingkungan.
“Perubahan ini penting. Dan nyata,” ujarnya.
Aurelie, yang saat ini tengah menanti kelahiran anak pertamanya, berharap semakin banyak korban merasa aman untuk bersuara dan mencari dukungan.
“Kalau hari ini kamu merasa sedikit lebih aman untuk bersuara, berarti kita sedang berjalan ke arah yang benar,” tutupnya.
Pengertian Child Grooming
Child grooming merupakan proses manipulatif yang dilakukan seseorang, umumnya orang dewasa, untuk membangun kedekatan dan kepercayaan dengan anak atau remaja guna tujuan eksploitasi atau kekerasan seksual. Proses ini biasanya berlangsung secara bertahap dan kerap tidak disadari korban.
Child grooming dapat terjadi di lingkungan fisik maupun ruang digital, seperti media sosial dan aplikasi pesan instan. Dalam banyak kasus, pelaku merupakan orang yang dikenal korban.
Praktik grooming dapat menimbulkan dampak jangka panjang, antara lain trauma psikologis, gangguan kepercayaan, kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD).







