DI tengah persaingan yang semakin ketat dalam pendidikan tinggi, pencapaian akademik sering kali hanya dilihat dari angka. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) seakan menjadi ukuran utama keberhasilan seorang mahasiswa. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran yang seharusnya mendidik cara berpikir kritis, etika, dan karakter teralihkan oleh obsesi terhadap nilai.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting, apakah tujuan utama pendidikan tinggi hanya untuk menghasilkan mahasiswa dengan nilai tinggi, ataukah untuk membentuk individu yang bisa berpikir, beradaptasi, dan bertanggung jawab dalam kehidupan nyata? Dalam praktiknya, tekanan akademis yang berlebihan sering mengabaikan aspek kemanusiaan mahasiswa sebagai pelajar, bukan hanya objek penilaian.
Saat ini, sistem pendidikan tinggi sangat menekankan pencapaian yang bersifat kuantitatif. Nilai ujian dan IPK sering dijadikan satu-satunya indikator kecerdasan dan ukuran keberhasilan. Namun, kemampuan mahasiswa tidak selalu bisa dilihat dari angka semata. Keterampilan berpikir kritis, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta kepekaan sosial sering kali berkembang di luar ruang kelas.
Selain itu, penting bagi mahasiswa untuk terlibat dalam pembelajaran berbasis praktik, tidak hanya terfokus pada teori saja. Melalui pengalaman praktik yang cukup, atau dengan terlibat langsung dalam penerapan nyata, mahasiswa bisa mengasah kemampuan yang relevan dengan tuntutan pasar kerja. Hal ini krusial mengingat perusahaan tidak selalu menilai calon pegawai hanya berdasarkan IPK, tetapi juga pengalaman, kemampuan memecahkan masalah, serta daya pikir.
Dalam kenyataannya, ada banyak mahasiswa yang lulus dengan IPK tinggi, bahkan meraih cum laude, tetapi ketika menghadapi wawancara kerja, mereka tidak dapat menunjukkan kemampuan yang setara dengan nilai yang dicapai. Situasi ini memperlihatkan adanya ketidakcocokan antara prestasi akademik dan kesiapan untuk memasuki dunia profesional.
Tekanan untuk memperoleh nilai tinggi juga berdampak buruk pada kesehatan mental mahasiswa yang berujung pada stres. Banyak dari mereka merasa cemas, takut gagal, dan kehilangan motivasi belajar karena khawatir nilai yang diperoleh tidak memenuhi ekspektasi. Dalam keadaan ini, proses belajar tidak lagi dilihat sebagai usaha untuk memahami ilmu, melainkan hanya sebagai cara untuk mendapatkan nilai yang baik. Kondisi ini dapat mendorong praktik tidak etis, seperti mencontek, plagiarisme, atau belajar secara terburu-buru tanpa pemahaman yang mendalam.
Fokus yang berlebihan pada nilai juga menyusutkan arti kesuksesan. Mahasiswa dengan IPK tinggi sering dianggap lebih baik, sementara mereka yang memiliki kemampuan praktis, kreativitas, atau kemampuan interpersonal tetapi nilai akademiknya biasa saja lebih sering diabaikan. Padahal dunia kerja dan hubungan sosial membutuhkan individu yang adaptif, berintegritas, dan mampu bekerja sama, bukan hanya yang unggul dalam hal akademis.
Pendidikan tinggi seharusnya menjadi ruang yang aman untuk mengeksplorasi, bertanya, dan bahkan melakukan kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran. Peran dosen dan institusi pendidikan sangat penting dalam menciptakan sistem evaluasi yang lebih menyeluruh, yang tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga proses, upaya, dan perkembangan mahasiswa. Dengan cara ini, mahasiswa diperlakukan sebagai individu yang utuh dan sedang berkembang, bukan sekadar mesin pembuat nilai.
Saatnya untuk mengubah paradigma pendidikan tinggi dari fokus nilai menjadi pembelajaran yang berarti. Mahasiswa bukanlah mesin yang diatur untuk menghasilkan angka sempurna, tetapi individu dengan potensi, keterbatasan, dan cara belajar yang unik. Pendidikan yang mengedepankan kemanusiaan akan menghasilkan lulusan yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga mampu secara emosional, etis, dan sosial. Jika tujuan pendidikan adalah mempersiapkan masa depan, maka masa depan tersebut tidak bisa dibangun hanya dengan angka.
Penulis:
Novita Noviana
Mahasiswa Universitas PamulangProgram Studi Sarjana Akuntansi







