INDUSTRI otomotif di Indonesia merupakan sektor vital yang mengalami perkembangan pesat seiring berjalanya waktu dan kemajuan teknologi dari tahun ke tahun. Salah satu teknologi yang masuk kedalam sektor otomotif secara signifikan adalah Artificial Intelligence (AI). AI sendiri digunakan agar bisa memberikan efesiensi, mengoptimalkan sumber daya dan perencanaan produk sehingga dinamika pemasaran menjadi lebih cepat dan efesien.
Tulisan ini membahas pengaruh AI dalam perencanaan produksi pada industri otomotif di Indonesia dan dampaknya bagi produktifitas pabrik.
Perancangan produksi adalah hal yang penting dalam mengoptimalakan setiap alokasi sumber daya yang ada sehingga digunakan dengan memaksimalkan setiap output yang ada. Kecerdasan AI digunakan untuk memberikan kontribusi dalam hal menganalisis data besar, machine learning, dan kemampuan prediksi cerdas yang memungkinkan perencanaan produksi menjadi lebih dinamis, adaptif, dan otomatis. Pengaruh AI ini juga bisa menjadi hal yang besar dan bisa menjadikan Industri lebih berjalan sistematis dan berjalan dengan perancangan masa depan yang lebih jelas dan menjadi hal yang di dunia Industri saat ini yang dimana sekarang AI mendukung manufaktur yang cerdas yang adaptif dan berkelanjutan.
Brand Indistri otomotif di Indonesia seperti Toyota,Mitsubishi dan Volvo adalah contoh Industri otomotif yang menggunakan AI dalam proses produksi. Perkembangan AI di Indonesia dan dunia ini menyebapkan sekarang sering di temui mobil listrik yang dalam proses pengoprasiannya menggunakan prinsip AI di dalamnya yang banyak fitur – fitur tersebut untuk memberikan Kesan kenyamanan dan lebih terlibat mewah dan simple. Penggunaan AI bagi brand besar seperti Toyota bertujuan juga untuk mengurangi biaya produksi untuk jangka waktu yang panjang yang diberikan untuk pekerja yang biasanya digunakan.
Tantangan utama implementasi Artificial Intelligence (AI) dalam industri otomotif Indonesia pada tahun 2025 meliputi beberapa hal penting. Pertama, karena investasi teknologi yang tinggi sehingga membutuhkan komponen yang perangkat keras yang canggih dan infrastruktur teknologi yang mahal. Kedua, tenaga kerja yang dibutuhkan menjadi harus lebih terlatih dalam mengoprasikanya karena ini harus punya pengalaman yang banyak sehingga meminimalkan terjadinya kesalahan atau pun kerusakan yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, industri otomotif di Indonesia terus berupaya mengatasi tantangan ini dengan investasi berkelanjutan dan peningkatan kompetensi SDM agar dapat memetik manfaat maksimal dari transformasi digital berbasis AI.
Masalah yang sedang viral saat ini, khususnya di industri otomotif, adalah dampak penggunaan kecerdasan buatan (AI) terhadap lapangan kerja akibat robot sebagai alat produksi utama. Hal ini menyulitkan persaingan di dunia industri, di mana individu minimal harus memiliki kualifikasi unggul agar diterima perusahaan dan memperoleh pekerjaan. Otomatisasi manufaktur yang fokus mengoptimalkan perakitan serta mengurangi kesalahan proses semakin mempercepat perubahan ini. Namun, peluang baru muncul bagi pekerja terampil dalam pemeliharaan robot dan pengembangan AI. Oleh karena itu, upskilling dan pendidikan vokasi menjadi kunci untuk beradaptasi dengan era industri 4.0.
Banyak respons positif muncul terkait penerapan AI di industri otomotif, karena membuka peluang baru bagi tenaga kerja terampil, khususnya insinyur AI, spesialis data, dan teknisi robotik yang sangat dibutuhkan saat ini. Transformasi ini mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, dengan program unggulan seperti Politeknik Manufaktur Astra serta kursus online gratis dari Google, yang berhasil mengurangi kesenjangan keterampilan hingga 25% di kalangan buruh terdampak. Kolaborasi antara industri dan akademik semakin kuat untuk menyediakan sertifikasi cepat, memastikan pekerja dapat bertransisi mulus ke peran bernilai tinggi. Selain itu, inisiatif ini menciptakan ekosistem kerja inklusif, di mana upskilling menjadi kunci adaptasi di era industri 4.0, sehingga pertumbuhan ekonomi tetap merata tanpa meninggalkan pekerja lama.
Larry Willis, Presiden Transportation Trades Department (TTD) AFL-CIO, menentang keras penggantian pekerja dengan kendaraan otonom di industri otomotif. Ia menuntut pemberitahuan dini bagi pekerja terdampak, program pelatihan ulang yang komprehensif, serta kehadiran pengemudi manusia untuk menjaga keselamatan, dengan tekad agar “pekerjaan bagus tidak dihancurkan demi kepentingan investor semata”. Sikap tegas ini mencerminkan perjuangan serikat buruh global melawan otomatisasi yang mengancam jutaan lapangan kerja manual.
Di Indonesia, serikat buruh seperti KSPSI dan FSPMI menyuarakan kekhawatiran serupa atas transisi ke kendaraan listrik (EV) serta otomatisasi pabrik. Mereka menyoroti pengurangan kesempatan kerja manual di lini produksi, di mana robotika menggantikan ribuan posisi operator. Para pemimpin buruh mendesak pemerintah dan perusahaan otomotif untuk menyusun kebijakan transisi yang adil, termasuk subsidi upskilling dan jaminan sosial bagi pekerja yang kehilangan pekerjaan. Tanpa intervensi ini, disparitas sosial bisa memburuk, memicu demonstrasi massal seperti yang pernah terjadi di pabrik-pabrik besar. Meski demikian, dialog dengan industri tetap dibuka untuk mencari solusi win-win, memastikan teknologi maju tanpa mengorbankan kesejahteraan buruh.
Implementasi Artificial Intelligence dalam perencanaan produksi memberikan dampak positif yang signifikan terhadap produktivitas industri otomotif Indonesia. AI tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga membantu perusahaan beradaptasi dengan dinamika pasar yang cepat berubah. Untuk memaksimalkan manfaat ini, investasi berkelanjutan dalam teknologi dan pengembangan sumber daya manusia menjadi kunci keberhasilan.
Penulis:
Kristiano Farrel Boli
Mahasiwa Universitas Pamulang Teknik Industri







