TANGERANG SELATAN – Liburan akhir tahun identik dengan momen bahagia untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau pasangan. Namun di balik suasana hangat tersebut, tak sedikit orang justru merasakan tekanan dan stres.
“Stres saat liburan biasanya berakar dari ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan,” ujar psikolog klinis Jessica Bodie, PhD, dikutip dari Women’s Health.
Salah satu pemicunya adalah perubahan rutinitas. Pola tidur, jam makan, hingga aktivitas harian yang berbeda dari biasanya dapat membuat tubuh dan pikiran perlu beradaptasi ekstra.
Ditambah lagi, agenda liburan yang padat, mulai dari perjalanan jauh hingga menghadiri berbagai acara sosial, seringkali membuat seseorang kelelahan dan kurang istirahat.
Tekanan sosial dan ekspektasi juga berperan besar. Baik berasal dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar, terutama keluarga.
“Keluarga bisa menjadi pemicu stres saat liburan,” ungkap profesor asosiasi klinis Thea Gallagher.
Karena itu, liburan sebaiknya tidak hanya berfokus pada menyenangkan orang lain, tetapi juga memberi ruang untuk diri sendiri. Dengan begitu, liburan dapat dinikmati tanpa beban berlebihan.
“Saran terbaik saya untuk mengurangi stres liburan adalah benar-benar mengevaluasi apa manfaat utama Anda dalam menjalani liburan,” tutur Bodie.
Menyusun daftar kegiatan liburan pun perlu disesuaikan dengan waktu dan kemampuan tubuh. Jangan ragu untuk menolak sebagian ajakan jika dirasa terlalu melelahkan, baik secara fisik maupun mental.
“Tidak apa-apa jika Anda tidak menghadiri setiap acara liburan atau mengunjungi semua anggota keluarga,” pungkas psikolog klinis Hillary Ammon, PsyD.







