“AWALNYA, saya sama sekali gak percaya dengan cerita hantu,” terang Hari, sebut saja begitu, narasumber Tangselxpress.com yang pernah menjadi seorang dosen di Jakarta.
Sebagai seseorang yang berpegang teguh dengan agama, Hari memang tak begitu menyukai cerita mistis. Apalagi dia seorang akademisi yang mengajar di universitas ternama. Hari lebih memilih menggunakan akal sehatnya daripada terjebak dalam hal-hal yang tak masuk akal.
“Hingga akhirnya saya bertemu dengan Farida,” kata pria sepuh itu.
Siapakah Farida?
“Saat itu, saya mendapat tugas untuk pergi ke Kediri dari universitas. Kota yang menurut saya cukup asing karena saya belum pernah ke sana,” kata Hari, yang dilahirkan di Kota Pekalongan, Jawa Tengah 70 tahun lalu.
Suatu malam, dalam perjalanan kembali ke Kediri dari Tulungagung, Hari duduk bersebelahan dengan seorang wanita. “Saya ingat, saat itu saya naik bus Harapan Jaya dari terminal Tulungagung,” cerita Hari.
Dalam perjalanan singkat itu, Hari berkenalan dengan wanita yang bernama Farida. Bagi Hari, Farida adalah wanita yang cantik, sederhana, dan sangat sulit dilupakan. “Saya yang duduk di sebelahnya merasa sangat nyaman,” kata dia.
Farida ternyata turun di wilayah sekitar Ngadiluwih. Sebelum turun, dia sempat menuliskan alamatnya di secarik kertas dan menyerahkannya kepada Hari. “Kalau Pak Hari lewat sini, mampir ke gubuk saya,” kata Farida lalu beranjak pergi untuk turun dari bus.
Sesampainya di hotel, Hari tak bisa melupakan wajah Farida. Pikiran dan ingatannya selalu tertuju pada wanita yang baru saja dia kenal. Hari ingin menjadikan Farida istrinya, apalagi dia juga masih membujang meski saat itu usianya sudah berkepala tiga.
Esok harinya, Hari memilih mencari alamat Farida di Desa Badal Pandean, Ngadiluwih dengan sepeda motor milik temannya.
“Zaman segitu belum ada Google Maps, jadi saya bolak-balik tanya kepada orang,” kisah Hari.
Hingga akhirnya, Hari sampai di tempat sesuai alamat yang ditulis Farida. Yang membuatnya terkejut, di tempat itu tak ada satupun rumah yang berdiri. Yang ada hanyalah area pemakaman.
“Awalnya saya tidak percaya,” kata dia.
Hingga akhirnya Hari bertemu dengan seseorang bernama Mualim, warga setempat. Menurut Mualim, alamat yang dicari Hari sudah sesuai dengan alamat yang ditulis Farida. Yaitu area pemakaman.
Dari Mualim pula, Hari baru tahu bahwa Farida memang sering bergentayangan menemui seseorang. “Ternyata dulu juga ada yang mencari Farida dengan kasus yang sama seperti saya,” kata Hari.
Hantu Baik Hati
Cerita hantu Farida, bagi warga Badal Pandean atau Ngadiluwih sudah ada sejak zaman dulu. Meski berwujud hantu, namun Farida dikenal sebagai hantu yang baik hati karena suka memberi barang kepada warga sekitar.
Farida dipercaya menghuni dua pohon besar di tengah makam. Sebagian warga di Badal Pandean mengenal pohon itu sebagai sumber keberkahan. Siapapun yang berdoa di sana akan cepat terkabul semua permintaannya.
Banyak peristiwa mistis yang dialami warga Desa Badal Pandean. Salah satu kisah yang paling populer adalah datangnya kurir pengiriman barang yang diturunkan ke rumah-rumah warga. Tak semua warga menerima kiriman barang ini, kecuali mereka yang berziarah di lokasi pohon keramat.
Warga yang tak memesan barang sempat bingung dengan paket tersebut. Apalagi kedatangan barang terjadi malam hari, dari ekspedisi luar kota yang tidak diketahui asalnya.
Penduduk Badal Pandean mempercayai barang-barang itu pemberian hantu Farida. Sehingga makin mentasbihkan hantu Farida sebagai hantu baik penolong warga.
Makam tempat hantu Farida letaknya di perbatasan Desa Badal Pandean dan Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih. Tak jauh dari lokasi makam terdapat jembatan kecil tepat di kelokan jalan.
Konon Farida sering menampakkan diri sebagai sosok perempuan yang menyapa siapapun yang melewati jembatan itu. Warga setempat menyebut jembatan itu dengan Bok Jaten.
Namun, selain dikenal hantu baik dan dermawan, sesekali hantu Farida juga menakut-nakuti orang tertentu. Seperti pria hidung belang atau yang hendak berbuat jahat pada perempuan.







