PENDIDIKAN tinggi sejak lama dianggap sebagai salah satu jalan utama menuju kehidupan yang lebih baik. Siapa pun memiliki kesempatan untuk masuk perguruan tinggi dan meraih gelar sarjana. Namun, kenyataan tidak seindah itu. Masih banyak anak muda dari kalangan ekonomi lemah yang harus mengubur mimpinya melanjutkan pendidikan karena terhalang biaya.
Salah satu kendala terbesar dalam akses pendidikan tinggi adalah biaya. Uang Kuliah Tunggal (UKT) di banyak perguruan tinggi terlampau tinggi bagi sebagian kalangan. Selain UKT, mahasiswa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk tempat tinggal, makanan, transportasi, hingga keperluan akademik seperti laptop dan akses internet.
Bagi sebagian keluarga, menyekolahkan satu anak ke perguruan tinggi sama artinya dengan mempertaruhkan ekonomi rumah tangga. Tidak sedikit pula mahasiswa yang harus bekerja paruh waktu hingga mengorbankan waktu belajarnya demi bisa bertahan hidup selama kuliah. Dalam kondisi seperti ini, kuliah menjadi perjuangan yang jauh lebih berat bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Ketimpangan akses pendidikan sebenarnya sudah dimulai sejak tingkat pendidikan dasar dan menengah. Siswa di daerah perkotaan umumnya memiliki akses lebih baik terhadap fasilitas belajar, guru berkualitas, dan informasi seputar seleksi masuk perguruan tinggi. Sebaliknya, siswa dari daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) harus menghadapi keterbatasan dalam banyak hal.
Selain faktor ekonomi dan geografis, ada pula hambatan sosial yang membuat akses ke perguruan tinggi menjadi tidak merata. Anak perempuan di beberapa daerah masih dihadapkan pada anggapan bahwa mereka tidak perlu kuliah tinggi.
Ketika hanya keluarga tertentu yang mampu mengakses pendidikan tinggi, maka ketimpangan sosial tidak akan pernah benar-benar selesai. Anak dari keluarga kaya lebih mudah kuliah, lulus, lalu mendapatkan pekerjaan yang baik. Sementara anak dari keluarga miskin kembali terjebak dalam lingkaran yang sama.
Potensi SDM bangsa pun akhirnya tidak tergali secara maksimal. Banyak anak muda cerdas dan penuh semangat yang akhirnya tak punya ruang untuk berkembang karena sistem belum berpihak pada mereka.
Perlu ada upaya serius untuk memperbaiki sistem pendidikan tinggi agar lebih merata. Seperti Pemerintah perlu menjangkau semua anak muda yang terhalang ekonomi tetapi berprestasi dengan meratakan pendidikan hingga ke daerah 3T, serta Pemerintah juga perlu membuat pendidikan tinggi menjadi lebih terjangkau untuk semua kalangan.
Penulis:
Muhammad Wira Yudha
Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Akuntansi







