• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Minggu, 30 November, 2025
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • SERBA SERBI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • PENDIDIKAN
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • SERBA SERBI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • PENDIDIKAN
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home OPINI

DISWAY: Agomo Budoyo

Hadi Ismanto by Hadi Ismanto
April 11, 2025
in NEWS, OPINI
Reading Time: 4min read
Dahlan Iskan dan Kirun

Dahlan Iskan dan Kirun. Foto: Tommy Gutomo. Foto: Harian Disway

89
SHARES
2.3k
VIEWS

Oleh: DAHLAN ISKAN
Sang Begawan Media

KIRUN ditanya oleh istri: punya uang berapa?

“Punya Rp 500.000,” katanya.

Lalu ia merogoh kantong kanan. Ia berikan ke istri.

“Itu kantong kiri juga kelihatan tebal. Apa isinya?”

“Ini juga uang. Rp 500.000,” jawabnya.

“Kenapa tidak dijadikan satu saja dan bilang punya uang Rp 1 juta?”

“Tidak bisa begitu,” kata Kirun. “Yang kanan ini uang Pertamax. Yang kiri ini uang Pertalite. Kalau dijadikan satu namanya uang oplosan”.

Saya ke rumah Kirun Rabu lalu. Mudah. Tidak jauh dari mulut tol Madiun. Tinggal belok kanan sekitar 1 km. Berdekatan dengan rumah Jenderal Yudo Margono, mantan Panglima TNI yang kini menjabat komut PT Hutama Karya.

Dua-duanya seniman. Kirun seniman plus pelawak. Yudo seniman plus tentara. Yang pandai melucu malah istrinya, komisaris besar dari kepolisian: Bu Vero Veronica Yulis Prihayati).

Deretan kamar tamu di rumah Kirun yang disediakan untuk para seniman yang sering berkunjung ke Padepokan Seni Kirun. -Foto: Tomy Gutomo-Harian Disway

Di usianya yang 65 tahun Kirun tergolong seniman yang tetap laris. Hampir tidak ada hari lowong untuk tanggapan –naik panggung. Kirun memang mirip Soimah –serba bisa. Bisa wayang orang, wayang kulit, ludruk, ketoprak, sinden, dan belakangan sering pula diminta memberikan ceramah agama.

“Banyak mana tanggapan untuk melawak atau ceramah agama?”

“Saya tetap pelawak,” jawabnya.

“Kan sering juga ceramah agama”.

“Itu salahnya yang mengundang”.

Saya tidak memberi tahu kalau akan mampir ke rumahnya. Selama ini saya hanya merasa tidak reciprocal –meminjam istilah tarif impornya Donald Trump.  Kirun sudah beberapa kali ke rumah saya. Saya harus melakukan tit for tat.

BACA JUGA :  Jajan Bubur di Pasar Salatiga Jawa Tengah, Anies Dicurhati Harga Daging Ayam Mahal

Kalau pun pagi itu Kirun tidak ada di rumah juga tidak apa-apa. Tujuan utamanya kan silaturahmi. Tujuan lainnya hanya sampingan: membicarakan skenario ketoprak-tokoh untuk ulang tahun Harian Disway Surabaya yang akan datang.

Rumah Kirun di pinggir jalan raya jurusan alternatif Balerejo-Ngawi. Tidak perlu salah masuk. Banyak karangan bunga di halamannya: Selamat HUT ke-41 Padepokan Seni Kirun (Padski). Salah satu pengirimnya tetangganya sendiri: Jenderal Yudo Margono.

Pak Yudo, kalau lagi pulang kampung, sering naik sepeda motor ke rumah Kirun. Ngobrol soal kesenian Jawa. Waktu menjabat Panglima TNI Yudo begitu sering menanggap wayang kulit. Mungkin Yudo adalah juara penyelenggara pertunjukan wayang kulit –sekaligus juara menontonnya sampai pagi.

“Itu. Pak Kirun ada,” ujar Tomy Gutomo, dirut Harian Disway yang bersama saya.

Ia lagi rebahan di kursi panjang kayu jati: tidak melihat kami datang. Mobil listrik memang tanpa suara. Kami pun mendekat ke kursinya. Lhadalah…. Kirun kaget.

Kami ngobrol di situ. Di ruang terbuka antara rumahnya dan tobongnya. Rumah itu besar sekali. Bagian depannya sebuah joglo Jawa yang besar. Joglo bintang empat. Terasa seperti joglo mewah. Dengan perabotan yang juga berkelas. Kelihatannya sering ada acara besar di joglo itu, termasuk kawinan.

Di belakang joglo itu ada kamar-kamar bernomor. Lalu ada tangga naik –ke kamar-kamar di atas.

Di sebelah lain ruang duduk terbuka itu ada kamar-kamar lain yang juga bernomor. Di belakang kamar-kamar itulah tobongnya: panggung permanen untuk pertunjukan ketoprak. Sangat terawat, pertanda sering ada pertunjukan atau latihan di situ. Lukisan di panggung itu selalu diperbarui. Sangat terjaga. Mengalahkan panggung Sriwedari Solo sekali pun.

BACA JUGA :  Kamis Pagi, Gempa 6,6 Magitude Guncang Kota Kupang

Kirun hidup dari kesenian dan ia menghidup-hidupkan kesenian.

Di dinding-dinding tobong itu banyak gambar lukisan Gus Dur ukuran besar-besar. Itulah tokoh idola Kirun: Gus Dur. Ia merasa cocok dengan jalan pikiran Gus Dur dalam memandang agama dan budaya.

”Agomo. Budoyo. Negoro”.

Tulisan itu ada di beberapa bagian di kompleks padepokan seni Kirun. Termasuk di mobil-mobilnya.

Agomo adalah cinta-kasih. Semua agama mengajarkan cinta. Budoyo adalah roso rumongso. Sopan santun. Tata krama. Dan negoro adalah tatanan.

Ada empat mobil yang parkir di garasi terbukanya. Termasuk Alphard. Lalu ada masjid kecil di halaman depan. Bentuk masjidnya seperti kelenteng. Dibuat mirip masjid Cheng Hoo di Surabaya.

Kirun memang pernah ke masjid di Guangzhou, Tiongkok. Pandangannya tentang Tiongkok dan Islam berubah sejak dari sana. Ia juga ke Shenzhen: melihat bagaimana negara di sana melestarikan budaya Tiongkok. Ia nonton ludruk Tiongkok di Shenzhen. Di sana disebut cha guan.

Pandangan Kirun yang lapang juga lantaran kirun banyak jalan ke berbagai negara. Juga ke berbagai daerah. Ia melihat begitu banyak perbedaan tanpa harus bermusuhan.

Kirun pernah empat tahun di Papua. Di Sorong. Di Manokwari. Di Jayapura. Waktu itu Kodam di sana –juga di provinsi lain– punya bagian kesenian untuk sosialisasi program-program pemerintah. Kirun menjadi pegawai sipil di Kodam. Dengan tugas utama di panggung-panggung kesenian.

BACA JUGA :  Bidik Kemenangan Kandang Perdana, Bhayangkara FC: Sepak Bola Bukan Matematika

”Menghidup-hidupkan kesenian” sudah menjadi prinsip dalam hidupnya. Kesenian telah memberinya hidup yang baik. Ia melihat alangkah keringnya kehidupan tanpa kesenian.

Di pemerintahan, katanya, generasi berganti. Di tentara terus berganti. Di tokoh-tokoh agama juga terus terjadi pergantian generasi. Kalau di kesenian tidak terjadi hal yang sama, kesenian ini akan punah. Lalu identitas bangsa ini akan ikut hilang.

Kirun hanya tamatan SMP. Di desa itu. Lalu main wayang orang. Ikut ketoprak. Ludruk. Dan apa saja. Salah satu dari dua anaknya baru saja lulus Institut Seni Indonesia Solo. Jurusan karawitan. Satunya lagi wanita, kawin dengan tentara.

“Kompleks padepokan ini luas sekali. Ada dua hektare?”

“Ya segitulah kira-kira”.

“Mengapa banyak kamar bernomor?”

“Seniman dari mana-mana sering ke sini. Menginap di sini,” katanya. Gratis. Ia pun menyebut nama-nama seperti Soimah, Sudjiwo Tedjo, Gus Mus, dan banyak lagi. Berarti padepokan ini juga dilengkapi wisma seni. Cocok dengan nama padepokan.

Tak terasa lebih satu jam saya ngobrol dengan Kirun. Waktunya ke Takeran, Magetan –ngurus pesantren. Saya pun minta izin membawa beberapa makanan kecil ke mobil.

Saat melihat saya datang tadi Kirun langsung panggil anak muda di situ. “Cepat ke pasar. Beli jongkong, cenil, dan grontol. Beliau suka suguhan seperti itu. Sama-sama orang desa,” ujar Kirun.

Kirun benar dengan segala ucapannya itu. (*)

Tags: agomo budoyo negorodahlan iskandiswayGus MuskirunSoimahSudjiwo Tedjo
Previous Post

Lumat Afganistan 2-0, Indonesia Juara Grup C Piala Asia U-17

Next Post

Prakiraan Cuaca Kota Tangsel Hari Ini: Hujan Ringan Merata

Related Posts

Dorong UMKM Naik Kelas, BRI Jalin Kolaborasi dengan SOGO
ADVERTORIAL

Dorong UMKM Naik Kelas, BRI Jalin Kolaborasi dengan SOGO

November 29, 2025
3.2k
Konsep Otomatis
NASIONAL

Prabowo: Jangan Sampai Anggaran Pendidikan Dikorupsi

November 29, 2025
1.5k
Menafsir Gugatan Pemberhentian Dewan oleh Masyarakat
OPINI

Menafsir Gugatan Pemberhentian Dewan oleh Masyarakat

November 29, 2025
2.2k
Tangsel Raih Predikat Kota Terbaik TP2DD Tahun 2025
TANGERANG SELATAN

Tangsel Raih Predikat Kota Terbaik TP2DD Tahun 2025

November 29, 2025
3.1k
Benyamin Dampingi Andra Soni Resmikan MRF Bintaro Jaya
TANGERANG SELATAN

Benyamin Dampingi Andra Soni Resmikan MRF Bintaro Jaya

November 29, 2025
1.2k
Dukung Pemerintah Larang Impor Pakaian Bekas Ilegal, Pelaku Usaha Lokal Gaungkan Slogan ‘Indonesia Emas Bukan Indonesia Bekas’
NASIONAL

Dukung Pemerintah Larang Impor Pakaian Bekas Ilegal, Pelaku Usaha Lokal Gaungkan Slogan ‘Indonesia Emas Bukan Indonesia Bekas’

November 29, 2025
3k
Next Post
Prakiraan Cuaca Kota Tangsel Hari Ini: Seluruh Wilayah Hujan

Prakiraan Cuaca Kota Tangsel Hari Ini: Hujan Ringan Merata

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • SERBA SERBI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • PENDIDIKAN
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN

© 2022 TangselXpress.com