TANGSELXPRESS – Membawa kedermawanan ke arah keberlanjutan pada program kemanusiaan saat ini amatlah strategis untuk dijalankan oleh praktisi philantrophis Islam.
Kerjasama yang lebih kongkrit pada isu-isu global kemanusiaan dan penghijauan (lingkungan) membutuhkan kerjasama semua pihak baik dari dunia usaha, pemerintah dan lembaga philantrophis itu sendiri serta yang tak kalah pentingnya adalah peran teknologi digital yang mau tidak mau sudah menjadi kebutuhan millineal saat ini
Pihak dunia usaha merasa perlu sebagai sebuah kebutuhan yang tidak lepas sebagai perwujudan tanggung jawab baik secara Individu maupun Social Responsibility (lingkungan). Memelihara Kepentingan perusahaan dalam jangka panjang menstabilkan dan menyeimbangkan kepentingan bersama
Peran dari kaum millineal tidak harus berbentuk atau berwujud materi (sumbangan dana) melainkan yang diharapkan sumbangan berupa ide, gagasan, tenaga, dan waktu.
Gerakan-gerakan kaum muda untuk pencapaian Sustainable Development Goal (SDGs) dengan mengangkat isu pemanasan global, penghijauan dan lingkungan, ketahanan pangan, ketahanan protein serta pelestarian budaya murni lokal merupakan salah satu contoh tindakan filantropis Islam
Bentuk lainnya adalah gagasan dalam bentuk strategi komunikasi untuk menjalin kemitraan (partnership).
Kemitraan, masing-masing pihak (four angle empoworing) yakni dunia usaha, pemerintah, lembaga philantrophis Islam serta masyarakat sebagai potensi yang dapat disinergikan.
Contohnya, apabila sistem blended finance yang melibatkan korporasi, gerakan crowdfunding dan sukarelawan dapat dilakukan, maka dampak yang akan diciptakan akan lebih besar dan memiliki nilai keberlanjutan dari sekedar program yang bersifat charitable.
Konsep gotong-royong (ta’awun) yang jadi roh dari filantropi Islam inilah yang bisa dihidupkan kembali oleh generasi milenial untuk saat ini dan kedepannya.
Semua itu sesuai dengan kerangka Islam dalam potongan Surat Al-Baqarah:148, yaitu
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ
‘Fastabiqul Khairat’ yang artinya ‘berlomba-lomba dalam kebaikan’.
Penulis
Pa’ De Noer (Deni Nuryadin)
Komisioner BAZNAS Kota Tangerang Selatan







